Kata penutup
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
Nama penyusun guru bidang study
m.mahbubi
yuniar
Daftar Isi
Kata
Pengantar…………………………………………………………………
Daftar
Isi…………………………………………………………….................
Bab 1 PENDAHULUAN
1.1Permasalahan…………………………………………………………
1.2Rumusan
Masalah………………………………………………………………
1.3Tujuan
makalah…………………………………………………………………
1.4Manfaat
Bab II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Globalisasi……………………………………………………………….
2.2 Sejarah Globalisasi
2.3 Proses globalisasi
2.4 Ciri ciri Globalisasi…………………………………………………………………
2.5 Faktor-faktor terjadinya
globalisasi……………………………………………………
2.6 Pengaruh positif dan negatif
globalisasi…………………………………………
2.7 Cara Mencegah Dampak Bahaya Global
2.8 Peran Pemerintah Dalam Globalisasi
2. 9
Masyarakat Dalam Menghadapi Globalisasi
2.10 Pengertian
moral…………………………………………………………………….
2.11 Isu Isu Pendidikan Nilai Moral di
Beberapa Negara
2. 12
Dimensi Pendidikan Nilai Moral
2. 13
Pendidikan Nilai Moral
2. 14 Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
2. 15
Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral
BAB
III PENUTUP
Kesimpulan………………………………………………………………
Saran………………………………………………………………………
Daftar…………………………………………………………………….
Pustaka……………
2
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang /Permasalahan
Globalisasi adalah suatu
fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat
global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi
informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi
ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi
menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab,
dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan.Di era globalisasi ini dapat mempengaruhi
perkembangan sosial budaya pada suatu bangsa. Akhir-akhir ini,
kita tidak bisa menutup mata terhadap berbagai penyimpangan moral yang terjadi
di kalangan masyarakat Indonesia. Tawuran pelajar, perkelahian antar genk, perilaku
seks bebas, gaya hidup tidak beraturan menjadi beberapa contoh kelunturan moral
di kalangan generasi muda kita. Di kalangan pejabat, praktek korupsi masih
merupakan persoalan yang sangat mengerikan di Indonesia. Masyarakat secara umum
pada akhirnya kehilangan rujukan keteladanan, sehingga krisis moral semakin
meluas. Globalisasi ini membawa
berbagai perubahan yang menyentuh pada dasar kehidupan manusia.perubahan
tersebut disebabkan oleh pelestarian lingkungan hidup serta perjuangan hak
asasi manusia dan penigkatam kualitas hidup serta dapat merusak nilai moral
suatu bangsa serta masih banyak yang lainya seperti terorisme
global dan multidimensi krisis, yang satu negara tidak dapat mengatasi sendiri
karena untuk melakukan hal tersebut
perlu dukungan negara lain Pendidikan nilai moral merupakan alternatif Masalah
solusi yang lokal, regional, nasional, dan internasional di alam. Hal itu telah
menjadi isu global di beberapa negara (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina)
dan memiliki beberapa perbedaan dan persamaan. Hasil perbedaan dari negara yang
berbeda ideologi. Namun, negara-negara tersebut seperti menekankan nilai moral
pendidikan pada nilai-nilai etika moral,yang terutama pada nilai-nilai yang
berkaitan dengan hak asasi manusia yang bersifat universal dan global. Konsep
pendidikan nilai moral yang diusulkan oleh Kohlberg dan Miller cenderung
individualistik. Oleh karena itu, kebutuhan untuk menjadi dilengkapi dengan memperhitungkan
paradigma yang diusulkan oleh Capra bahwa manusia
hidup dibangun atas dasar pandangan sistemik dan holistik kehidupan, salah satu yang tidak parsial dan individualistis. Dalam pelaksanaannya, perlu pendekatan yang tepat dan metode yang relevan dan teknik. Pendekatan untuk pendidikan nilai moral termasuk menanamkan, pemodelan, memfasilitasi, dan pendekatan pengembangan keterampilan, dan metode termasuk dogmatis, metode deduktif, induktif, dan reflektif.seperti globalisasi kebudayaan globalisasi ini dapat mempengaruhi hamper semua aspek yang ada dalam masyarakat termasuk kedalam aspek budaya.di Indonesia contohnya Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja di Indonesia yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian mereka tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan lagi gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Singkatnya orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak lagi remaja yang mau melestarikan budaya bangsanya sendiri dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa. Jika pengaruh di atas dibiarkan, apa jadinya Moral generasi bangsa tersebut.Dampak masuknya budaya asing antara lain. terjadi perubahan kebudayaan, pembauran kebudayaan, modernisasi, keguncangan budaya, melemahnya nilai-nilai budaya bangsa. Dampak tersebut membawa pengaruh besar bagi Indonesia, baik dari segi postif, maupun negatif. Indonesia, masih terlalu lemah dalam menyaring budaya yang baik di ambil dengan yang tidak. Globalisasi perekonomian ini mempunyai dampak yang negative antara lain menghambat pertumbuhan sektor industry, Sektor keuangan semakin tidak stabil, Memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang pada intinya akan mempengaruhi nilai moral suatu bangsa antara lain semakin meningkatnya kasus pencurian, perampokan, pemerasan, dan masih banyak lagi lainya Ditinjau dari aspek yang lain globalisasi juga dapat menimbulkan Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
hidup dibangun atas dasar pandangan sistemik dan holistik kehidupan, salah satu yang tidak parsial dan individualistis. Dalam pelaksanaannya, perlu pendekatan yang tepat dan metode yang relevan dan teknik. Pendekatan untuk pendidikan nilai moral termasuk menanamkan, pemodelan, memfasilitasi, dan pendekatan pengembangan keterampilan, dan metode termasuk dogmatis, metode deduktif, induktif, dan reflektif.seperti globalisasi kebudayaan globalisasi ini dapat mempengaruhi hamper semua aspek yang ada dalam masyarakat termasuk kedalam aspek budaya.di Indonesia contohnya Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja di Indonesia yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian mereka tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan lagi gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Singkatnya orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak lagi remaja yang mau melestarikan budaya bangsanya sendiri dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa. Jika pengaruh di atas dibiarkan, apa jadinya Moral generasi bangsa tersebut.Dampak masuknya budaya asing antara lain. terjadi perubahan kebudayaan, pembauran kebudayaan, modernisasi, keguncangan budaya, melemahnya nilai-nilai budaya bangsa. Dampak tersebut membawa pengaruh besar bagi Indonesia, baik dari segi postif, maupun negatif. Indonesia, masih terlalu lemah dalam menyaring budaya yang baik di ambil dengan yang tidak. Globalisasi perekonomian ini mempunyai dampak yang negative antara lain menghambat pertumbuhan sektor industry, Sektor keuangan semakin tidak stabil, Memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang pada intinya akan mempengaruhi nilai moral suatu bangsa antara lain semakin meningkatnya kasus pencurian, perampokan, pemerasan, dan masih banyak lagi lainya Ditinjau dari aspek yang lain globalisasi juga dapat menimbulkan Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
3
1.2
Rumusan Masalah
1.Apa
definisi dari moral dan globalisasi?
2. apa
ciri ciri dari globalisasi?
3. Apa
pengaruh pengaruh yang ditulmbulkan globalisasi terhadap moral suatu bangsa?
4.
Bagaimana cara mencegah dampak/pengaruh bahaya global tersebut?
5. Mengapa
nilai moral sangat diperlukan di era globalisasi ini?
6.bagaimana
peran pemerintah dalam menanggapi globalisasi yang dapat merusak nilai moral
suatu bangsa?
7.
Bagaimana tanggapan masyarakat akam hal tersebut?
8.
Bagaimana pengaruh globalisasi terhadap kebudayaan nasional ?
1.3 Tujuan
makalah ini dibuat untuk
menambah pengetahuan dan pengalaman serta mengetahui pentingnya nilai nilai
moral bagi kehidupan suatu bangsa pada era globalisasi ini.mengetahui definisi
dari moral dan globalisasi,cirri cirri globalisasi pengaruh pengaruh yang
ditimbulkan globalisasi terhadap moral,cara mencegah pengaruh negative
globalisasi dan menetahui pentingnya nilai moral pada era globalisasi.
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penulisan makalah ini antara lain
adalah:
1. Untuk penulis sendiri makalah ini bermanfaat untuk
menyelesaikan mata kuliah Ilmu sosial dan budaya dasar serta dapat
mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang sudah di dapat dari pembelajaran mata
kuliah Ilmu sosial dan budaya dasar.
2. Untuk orang lain makalah ini dapat menjadi sumber
referensi untuk menjadi bahan penulisan lebih lanjut.
3. Untuk ilmu pengetahuan makalah ini dapat memperkaya
literature terkait dengan globalisasi
4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Globalisasi
Pengertian Globalisasi Menurut
asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah
universal.Globalisasi adalah proses integrasi internasional yang timbul dari
pertukaran pandangan dunia, produk, ide, dan aspek lain dari budaya 1 2. Secara
khusus, kemajuan dalam transportasi dan infrastruktur telekomunikasi, termasuk
munculnya Internet, yang utama faktor globalisasi dan memicu saling
ketergantungan lebih lanjut dari kegiatan ekonomi dan budaya.Ada juga yang mengatakan globalisasi merupakan suatu proses penyebaran
penyebaran hasil karya dan pemikiran suatu budaya sehingga melembaga dalam
kebudayaan di seluruh dunia.Achmad Suparman
menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau
perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh
wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar
definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang
melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses
sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di
dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau
kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan
budaya masyarakat.Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah
proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang
memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini,
globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir.
Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan
negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab,
globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan
berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore
Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada
tahun 1985.
Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
• Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantungsatusamalain.
• Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatantarifeksporimpor,lalulintasdevisa,maupunmigrasi.
• Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
• Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
• Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.
Adapun konsep globalisasi menurut pendapat para ahli adalah :LAURENCE E.ROTHENBERG Globalisasi adalah percepatan dan intensifikasiinteraksi dan integrasiantara orang-orang,perusahaan,dan pemerintah dari Negara yang berbeda.Selo Soemardjan : globalisasi adalah suatu proses terbentuknya sistem organisasidan komunikasi antarmasyarakat di seluruh dunia. Tujuan globalisasi adalahuntuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah tertentu yang sama misalnya bentuknya PBB, OKI3.Achmad Suparman. Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (bendaatau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Scholte. Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional.Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.Scholte. Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.Leonor Briones. Demokrasi bukan hanya dalam bidang perniagaan dan ekonominamun juga mencakup globalisasi institusi-institusi demokratis, pembangunansosial, hak asasi manusia, dan pergerakan wanita.Scholte. Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal materialmaupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.Steger. kondisi sosial yang ditandai dengan adanya interkoneksi ekonomi, politik, budaya, dan lingkungan global dan arus yang membuat banyak dari perbatasansaat ini sudah ada dan batas-batas tidak relevan.Anthony Giddens (1989), proses peningkatan kesalingtergantungan masyarakatdunia dinamakan dengan globalisasi. Ditandai oleh kesenjangan tingkatkehidupan antara masyarakat industri dan masyarakat dunia ketiga(yang pernahdijajah Barat dan mayoritas hidup dari pertanian). Emanuel Ritcher. Globalisasi adalah jaringan kerja global secara bersamaanmenyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasikedalam saling ketergantungan dan persatuan dunia.Beerkens Keterkaitan seluruh dunia antara negara-bangsa menjadi dilengkapidengan globalisasi sebagai sebuah proses di mana pengaturan sosial dasar (sepertikekuasaan, budaya, pasar, politik, hak, nilai, norma, ideologi, identitas,kewarganegaraan, solidaritas) menjadidisembedded dari spasial mereka konteks(terutama negara-bangsa) karena,massification percepatan, difusi flexibilisation,dan perluasan arus transnasional orang,produk, gambar dan informasi keuangan Tom G.Palmer.globalisasi sebagai "penyusutan atau penghapusan negara-diberlakukan pembatasan pertukaran lintas batas dan sistem global yang semakinterintegrasi dan kompleksproduksi dan pertukaran yang telah muncul sebagaiakibat.Lucian W.Pye. Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau worldculture).Takis Fotopoulos. globalisasi ekonomi "sebagai pembukaan dan deregulasi pasar komoditas, modal dan tenaga kerja yang menyebabkan globalisasi neoliberal ini."globalisasi politik "bernamamunculnya elit transnasional dan keluar pentahapandari negara-bangsa." globalisasibudaya "adalah homogenisasi budaya di seluruhdunia.Joseph Stiglitz. Globalisasi "adalah integrasi lebih dekat dari negara dan penduduk dunia dibawa oleh pengurangan besar biaya transportasi dankomunikasi, dan dipatahkannya rintangan buatan untuk arus barang,jasa, modal, pengetahuan, dan orang di seluruh perbatasan. Thomas L.Friedman. Globlisasi memiliki dimensi ideology dan teknlogi.Dimensi teknologi yaitu kapitalisme dan pasar bebas, sedangkan dimensiteknologi adalah teknologi informasi yang telah menyatukan dunia.Merriam Webster Dictionary. perkembangan ekonomi global yang semakinterintegrasi ditandai terutama oleh perdagangan bebas, arus modal yang bebas,dan menekan lebih murah pasar tenaga kerja asing. Dr.Nayef R.F. Al-Rodhan. Globalisasi adalah proses yang meliputi penyebab,kasus, dan konsekuensi dari integrasi transnasional dan transkultural kegiatanmanusia dan non-manusia.Malcom Waters. Globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yangterjelma didalam kesadaran orang.Anthony Giddens. globalisasi sebagai 'intensifikasi hubungan sosial seluruh duniayang menghubungkan daerah yang jauh dalam sedemikian rupa sehinggakejadian lokal dibentuk oleh peristiwa yang terjadi bermil-mil jauhnya dansebaliknya'.Peter Drucker. menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial.Wikipedia Ensiklopedia. Globalisasi atau penyejagatan adalah sebuah istilah yangmemiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksiyang lain sehingga batas-batas suatunegaramenjadi semakin sempit.Princenton N.Lyman.Globalisasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat atassaling ketergantungan dan hubungan antara Negara-negara didunia dalam hal perdagangan dan keuangan.A.G. McGrew. Globalisasi adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan,dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain.Albrow.Globalisasi mengacu pada semua proses dimana masyarakat duniadimasukkan ke dalam sebuah masyarakat tunggal dunia, masyarakat global.Wartawan Thomas L. Friedman mempopulerkan "dunia datar" istilah, dengan alasan bahwa perdagangan global, outsourcing, pasokan-chaining, dan kekuatan politik secara permanen mengubah dunia, untuk lebih baik dan lebih buruk. Ia menegaskan bahwa laju globalisasi yang mempercepat dan dampaknya terhadap organisasi bisnis dan praktek akan terus tumbuh.Adanya globalisasi mampu membuat dunia tampak sempit, dahulu apabila kita akan menonton siaran sepak bola kita harus ke negara yang mengadakan pertandingan. Tapi sekarang kita tidak perlu kemana-mana, kita cukup melihat di televisi. Ketika akan menghubungi seseorang kita harus bertemu dengan orang tersebut, tetapi sekarang dengan adanya pesawat telepon kita tidak perlu bertemu langsung cukup berbicara melalui telepon saja. Adanya globalisasi membawa manfaat bagi umat manusia tetapi ada juga dampak buruknya.
Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
• Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantungsatusamalain.
• Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatantarifeksporimpor,lalulintasdevisa,maupunmigrasi.
• Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
• Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
• Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.
Adapun konsep globalisasi menurut pendapat para ahli adalah :LAURENCE E.ROTHENBERG Globalisasi adalah percepatan dan intensifikasiinteraksi dan integrasiantara orang-orang,perusahaan,dan pemerintah dari Negara yang berbeda.Selo Soemardjan : globalisasi adalah suatu proses terbentuknya sistem organisasidan komunikasi antarmasyarakat di seluruh dunia. Tujuan globalisasi adalahuntuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah tertentu yang sama misalnya bentuknya PBB, OKI3.Achmad Suparman. Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (bendaatau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Scholte. Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional.Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.Scholte. Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.Leonor Briones. Demokrasi bukan hanya dalam bidang perniagaan dan ekonominamun juga mencakup globalisasi institusi-institusi demokratis, pembangunansosial, hak asasi manusia, dan pergerakan wanita.Scholte. Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal materialmaupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.Steger. kondisi sosial yang ditandai dengan adanya interkoneksi ekonomi, politik, budaya, dan lingkungan global dan arus yang membuat banyak dari perbatasansaat ini sudah ada dan batas-batas tidak relevan.Anthony Giddens (1989), proses peningkatan kesalingtergantungan masyarakatdunia dinamakan dengan globalisasi. Ditandai oleh kesenjangan tingkatkehidupan antara masyarakat industri dan masyarakat dunia ketiga(yang pernahdijajah Barat dan mayoritas hidup dari pertanian). Emanuel Ritcher. Globalisasi adalah jaringan kerja global secara bersamaanmenyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasikedalam saling ketergantungan dan persatuan dunia.Beerkens Keterkaitan seluruh dunia antara negara-bangsa menjadi dilengkapidengan globalisasi sebagai sebuah proses di mana pengaturan sosial dasar (sepertikekuasaan, budaya, pasar, politik, hak, nilai, norma, ideologi, identitas,kewarganegaraan, solidaritas) menjadidisembedded dari spasial mereka konteks(terutama negara-bangsa) karena,massification percepatan, difusi flexibilisation,dan perluasan arus transnasional orang,produk, gambar dan informasi keuangan Tom G.Palmer.globalisasi sebagai "penyusutan atau penghapusan negara-diberlakukan pembatasan pertukaran lintas batas dan sistem global yang semakinterintegrasi dan kompleksproduksi dan pertukaran yang telah muncul sebagaiakibat.Lucian W.Pye. Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau worldculture).Takis Fotopoulos. globalisasi ekonomi "sebagai pembukaan dan deregulasi pasar komoditas, modal dan tenaga kerja yang menyebabkan globalisasi neoliberal ini."globalisasi politik "bernamamunculnya elit transnasional dan keluar pentahapandari negara-bangsa." globalisasibudaya "adalah homogenisasi budaya di seluruhdunia.Joseph Stiglitz. Globalisasi "adalah integrasi lebih dekat dari negara dan penduduk dunia dibawa oleh pengurangan besar biaya transportasi dankomunikasi, dan dipatahkannya rintangan buatan untuk arus barang,jasa, modal, pengetahuan, dan orang di seluruh perbatasan. Thomas L.Friedman. Globlisasi memiliki dimensi ideology dan teknlogi.Dimensi teknologi yaitu kapitalisme dan pasar bebas, sedangkan dimensiteknologi adalah teknologi informasi yang telah menyatukan dunia.Merriam Webster Dictionary. perkembangan ekonomi global yang semakinterintegrasi ditandai terutama oleh perdagangan bebas, arus modal yang bebas,dan menekan lebih murah pasar tenaga kerja asing. Dr.Nayef R.F. Al-Rodhan. Globalisasi adalah proses yang meliputi penyebab,kasus, dan konsekuensi dari integrasi transnasional dan transkultural kegiatanmanusia dan non-manusia.Malcom Waters. Globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yangterjelma didalam kesadaran orang.Anthony Giddens. globalisasi sebagai 'intensifikasi hubungan sosial seluruh duniayang menghubungkan daerah yang jauh dalam sedemikian rupa sehinggakejadian lokal dibentuk oleh peristiwa yang terjadi bermil-mil jauhnya dansebaliknya'.Peter Drucker. menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial.Wikipedia Ensiklopedia. Globalisasi atau penyejagatan adalah sebuah istilah yangmemiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksiyang lain sehingga batas-batas suatunegaramenjadi semakin sempit.Princenton N.Lyman.Globalisasi adalah pertumbuhan yang sangat cepat atassaling ketergantungan dan hubungan antara Negara-negara didunia dalam hal perdagangan dan keuangan.A.G. McGrew. Globalisasi adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan,dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain.Albrow.Globalisasi mengacu pada semua proses dimana masyarakat duniadimasukkan ke dalam sebuah masyarakat tunggal dunia, masyarakat global.Wartawan Thomas L. Friedman mempopulerkan "dunia datar" istilah, dengan alasan bahwa perdagangan global, outsourcing, pasokan-chaining, dan kekuatan politik secara permanen mengubah dunia, untuk lebih baik dan lebih buruk. Ia menegaskan bahwa laju globalisasi yang mempercepat dan dampaknya terhadap organisasi bisnis dan praktek akan terus tumbuh.Adanya globalisasi mampu membuat dunia tampak sempit, dahulu apabila kita akan menonton siaran sepak bola kita harus ke negara yang mengadakan pertandingan. Tapi sekarang kita tidak perlu kemana-mana, kita cukup melihat di televisi. Ketika akan menghubungi seseorang kita harus bertemu dengan orang tersebut, tetapi sekarang dengan adanya pesawat telepon kita tidak perlu bertemu langsung cukup berbicara melalui telepon saja. Adanya globalisasi membawa manfaat bagi umat manusia tetapi ada juga dampak buruknya.
5
2.2 Sejarah Globalisasi
Banyak sejarawan yang menyebut globalisasi sebagai
fenomena di abad ke-20 ini yang dihubungkan dengan bangkitnya ekonomi
internasional. Padahal interaksi dan globalisasi dalam hubungan antar bangsa di
dunia telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Bila ditelusuri, benih-benih
globalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai mengenal perdagangan antar negeri
sekitar tahun 1000 dan 1500 M. Saat itu, para pedagang dari Tiongkok dan India
mulai menelusuri negeri lain baik melalui jalan darat (seperti misalnya jalur
sutera) maupun jalan laut untuk berdagang. Fenomena berkembangnya perusahaan
McDonald di seluroh pelosok dunia menunjukkan telah terjadinya globalisasi.
Fase selanjutnya ditandai dengan dominasi perdagangan
kaum muslim di Asia dan Afrika. Kaum muslim membentuk jaringan perdagangan yang
antara lain meliputi Jepang, Tiongkok, Vietnam, Indonesia, Malaka, India,
Persia, pantai Afrika Timur, Laut Tengah, Venesia, dan Genoa. Di samping
membentuk jaringan dagang, kaum pedagang muslim juga menyebarkan nilai-nilai
agamanya, nama-nama, abjad, arsitek, nilai sosial dan budaya Arab ke warga
dunia.
Fase selanjutnya ditandai dengan eksplorasi dunia secara
besar-besaran oleh bangsa Eropa. Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda adalah
pelopor-pelopor eksplorasi ini. Hal ini didukung pula dengan terjadinya
revolusi industri yang meningkatkan keterkaitan antar bangsa dunia. berbagai
teknologi mulai ditemukan dan menjadi dasar perkembangan teknologi saat ini,
seperti komputer dan internet. Pada saat itu, berkembang pula kolonialisasi di
dunia yang membawa pengaruh besar terhadap difusi kebudayaan di dunia.
Semakin berkembangnya industri dan kebutuhan akan bahan
baku serta pasar juga memunculkan berbagai perusahaan multinasional di dunia.
Di Indinesia misalnya, sejak politik pintu terbuka, perusahaan-perusahaan Eropa
membuka berbagai cabangnya di Indonesia. Freeport dan Exxon dari Amerika
Serikat, Unilever dari Belanda, British Petroleum dari Inggris adalah beberapa
contohnya. Perusahaan multinasional seperti ini tetap menjadi ikon globalisasi
hingga saat ini.
Fase selanjutnya terus berjalan dan mendapat momentumnya
ketika perang dingin berakhir dan komunisme di dunia runtuh. Runtuhnya
komunisme seakan memberi pembenaran bahwa kapitalisme adalah jalan terbaik
dalam mewujudkan kesejahteraan dunia. Implikasinya, negara negara di dunia
mulai menyediakan diri sebagai pasar yang bebas. Hal ini didukung pula dengan
perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi. Alhasil, sekat-sekat antar
negara pun mulai kabur.
6
2.3 Proses Globalisasi
Globalisasi sebagai
suatu proses bukanlah suatu fenomena baru karena proses globalisasi sebenarnya
telah ada sejak berabad-abad lamanya.Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20
arus globalisasi semakin berkembang pesat di berbagai negara ketika mulai
ditemukan teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi.Loncatan teknologi
yang semakin canggih pada pertengahan abad ke-20 yaitu internet dan sekarang
ini telah menjamur telepon genggam (handphone) dengan segala
fasilitasnya.Bagi Indonesia, proses globalisasi telah begitu terasa sekali
sejak awal dilaksanakan pembangunan. Dengan kembalinya tenaga ahli Indonesia
yang menjalankan studi di luar negeri dan datangnya tenaga ahli (konsultan)
dari negara asing, proses globalisasi yang berupa pemikiran atau sistem nilai
kehidupan mulai diadopsi dan dilaksanakan sesuai dengan kondisi di
Indonesia.Globalisasi secara fisik ditandai dengan perkembangan kota-kota yang
menjadi bagian dari jaringan kota dunia. Hal ini dapat dilihat dari
infrastruktur telekomunikasi, jaringan transportasi, perusahaan-perusahaan
berskala internasional serta cabang-cabangnya.
2.4 ciri ciri globalisasi:
Berikut ini beberapa ciri yang
menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia
· Perubahan dalam
Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam,
televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi
demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme
memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
· Pasar dan produksi
ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat
dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan
multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
· Peningkatan interaksi
kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan
transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi
dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi
beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
· Meningkatnya masalah
bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi
regional dan lain-lain.
Kennedy dan Cohen menyimpulkan
bahwa transformasi ini telah membawa kita pada globalisme, sebuah kesadaran dan
pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Giddens menegaskan bahwa kebanyakan
dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah
dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa
ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang
mungkin terjadi. Sejalan dengan itu, Peter Drucker menyebutkan globalisasi
sebagai zaman transformasi sosial.
Globalisasi budaya antara nya sub-kebudayaan Punk,
adalah contoh sebuah kebudayaan yang berkembang secara global.Globalisasi
mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya
aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang
dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat
terhadap berbagai hal.
Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan
aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran.
Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa
tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran
orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan
seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan.
Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai
dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world
culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia
ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai
tempat di dunia ini (Lucian W. Pye, 1966).
Namun, perkembangan globalisasi kebudayaan secara
intensif terjadi pada awal ke-20 dengan berkembangnya teknologi komunikasi.
Kontak melalui media menggantikan kontak fisik sebagai sarana utama komunikasi
antarbangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antarbangsa lebih mudah
dilakukan, hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan globalisasi
kebudayaan. 7
2.5 Faktor-faktor Terjadinya Globalisasi
Berkembang pesatnya Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah pendukung utama bagi terselenggaranya
globalisasi. Dengan dukungan teknologi informasi dan komunikasi, informasi
dalam bentuk apapun dan untuk berbagai kepentingan, dapat disebarluaskan dengan
mudah sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi cara pandang dan gaya hidup
hingga budaya suatu bangsa.selain hal tersebut globalisasi dapat terjadi karena
hal lain seperti:
Globalisasi terjadi karena faktor-faktor nilai budaya luar,
seperti:
a. selalu meningkatkan pengetahuan b.etos kerja;
c. patuh hukum; d. kemampuan memprediksi;
e. kemandirian; f. efisiensi dan produktivitas;
g. keterbukaan; h. keberanian bersaing; dan
i. rasionalisasi; j. manajemen resiko.
a. selalu meningkatkan pengetahuan b.etos kerja;
c. patuh hukum; d. kemampuan memprediksi;
e. kemandirian; f. efisiensi dan produktivitas;
g. keterbukaan; h. keberanian bersaing; dan
i. rasionalisasi; j. manajemen resiko.
Globalisasi terjadi melalui berbagai saluran, di
antaranya:
a. lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan;
b. lembaga keagamaan;
c. indutri internasional dan lembaga perdagangan;
d. wisata mancanegara;
e. saluran komunikasi dan telekomunikasi internasional;
f. lembaga internasional yang mengatur peraturan internasional; dan
g. lembaga kenegaraan seperti hubungan diplomatik dan konsuler.
a. lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan;
b. lembaga keagamaan;
c. indutri internasional dan lembaga perdagangan;
d. wisata mancanegara;
e. saluran komunikasi dan telekomunikasi internasional;
f. lembaga internasional yang mengatur peraturan internasional; dan
g. lembaga kenegaraan seperti hubungan diplomatik dan konsuler.
2.6 Pengaruh Positif dan Negatif Globalisasi
Seperti yang kita tahu
bahwa globalisasi adalah proses komplek yang digerakan oleh berbagai pengaruh
sehingga mengubah kehidupan sehari-hari terutama dinegara berkembang, dan pada
saat yang sama ia menciptakan system-system dan kekuatan trans nasional baru. Globalisasi
juga menimbulkan berbagai dampak yang merupakan permasalahan global. Dampak
dari globalisasi tersebut itu adalah:
8
-Dampak negatif
globalisasi yang terlihat/ terdetek; yaitu dampak buruk yang dapat dihindari
sebelum itu terjadi.
-Dampak positif
globalisasi yang terlihat/ terdetek; yaitu dampak positif/baik yang dapat
diperkirakan sebelum itu terjadi.
-Dampak negatif
globalisasi yang tidak terlihat/ tidak terdetek; dampak buruk yang tidak
diperkirakan dan tidak dapat dihindari sebelumnya. Dampak tersebut baru disadari
setelah efek buruknya terjadi.
-Dampak positif
globalisasi yang tidak terlihat/ tidak terdetek; dampak positif/baik yang tidak
dapat diperkirakan sebelumnya. Dampak tersebut baru disadari setelah
menguntungkan peradaban.
Oleh sebab itu sudah
sepatutnya penjelasan mengenai masalah globalisasi harus ditekankan, karena
perbedaan pendapat mengenai dampak globalisasi sudah sering terjadi di
masyarakat kita dewasa ini.
Dampak positif
globalisasi
1. Produksi global dapat
ditingkatkan
2. Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara
3. Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri
4. Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik
5. Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi
2. Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara
3. Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri
4. Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik
5. Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi
6.Kita dapat
berkomunikasi dengan teman, maupun keluarga yang sangat jauh hanya dengan melalui handphone.
7. Kita mendapatkan
layanan bank yang dengan sangat mudah. Dan lain-lain.
8. Kita akan lebih cepat
mendapatkan informasi-informasi yang akurat dan terbaru di bumi bagian manapun
melalui internet. Internet inilah yang paling berpengaruh dalam kemajuan
Globalisasi.
9. Kita dapat meniru
pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek
dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada
akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap
bangsa.
10. peningkatan
kecepatan, ketepatan, akurasi dan kemudahan yang memberikan efisiensi dalam
berbagai bidang khususnya dalam masalah waktu, tenaga dan biaya. Sebagai contoh
manifestasi Teknologi Informasi yang mudah dilihat di sekitar kita adalah
pengiriman surat hanya memerlukan waktu singkat, karena kehadiran surat
elektronis (email), ketelitian hasil perhitungan dapat ditingkatkan dengan
adanya komputasi numeris, pengelolaan data dalam jumlah besar juga bisa
dilakukan dengan mudah yaitu dengan basis data (database), dalam kegiatan
ekonomi sudah dilakukannnya E-banking, E-comerce,E-shopping dan masih banyak
lagi.
11. Teknologi informasi
dan komunikasi juga memiliki kinerja dalam hal sarana pembelajaran. Karena
seperti yang kita ketahui bahwa teknologi informasi dan komunikasi kini telah
merasuk ke dalam kurikulum dunia pendidikan. Suatu hal yang tentunya menjadi
gebrakan di dunia pendidikan dalam ajang peningkatan potensi pelajar. Selain
itu gelombang kemajuan dan perkembangan teknologi dalam bidang pendidikan telah
membawa perubahan pada kehidupan dan gaya hidup pelajar yang lebih dinamis.
Dengan adanya hal tersebut, maka pelajar senantiasa menghidupkan dan
menyalurkan semangat untuk mengeksplorasi ilmu yang belum diketahui.
12. Berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi
lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju
13. Tingkat Kehidupan
yang lebih Baik Dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan
transportasi yang canggih merupakan salah satu usaha mengurangi penggangguran
dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Dampak negatif globalisasi di bidang ekonomi
1. Menghambat pertumbuhan sektor industri
2. Memperburuk neraca pembayaran
3. Sektor keuangan semakin tidak stabil
4. memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang
1. Menghambat pertumbuhan sektor industri
2. Memperburuk neraca pembayaran
3. Sektor keuangan semakin tidak stabil
4. memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang
Pengaruh baik
globalisasi ekonomi
1. Produksi global dapat ditingkatkan
2. Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara
3. Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri
4. Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik
5. Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi
Keburukan globalisasi ekonomi
1. Menghambat pertumbuhan sektor industri
2. Memperburuk neraca pembayaran
3. Sektor keuangan semakin tidak stabil
4. memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang
1. Produksi global dapat ditingkatkan
2. Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara
3. Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri
4. Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik
5. Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi
Keburukan globalisasi ekonomi
1. Menghambat pertumbuhan sektor industri
2. Memperburuk neraca pembayaran
3. Sektor keuangan semakin tidak stabil
4. memperburuk prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang
Dampak Globalisasi Dalam
Bidang Sosial Budaya
Globalisasi memengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan. Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini ( Lucian W. Pye, 1966 ).Namun, perkembangan globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal ke-20 dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Kontak melalui media menggantikan kontak fisik sebagai sarana utama komunikasi antar bangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antar bangsa lebih mudah dilakukan, hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan.Semakin bertambah globalnya berbagai nilai budaya kaum kapitalis dalam masyarakat dunia. Merebaknya gaya berpakaian barat di negara-negara berkembang. Menjamurnya produksi film dan musik dalam bentuk kepingan CD/ VCD atau DVD.
Ciri berkembangnya globalisasi kebudayaan
1. Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional.
2. Penyebaran prinsip multikebudayaan (multiculturalism), dan kemudahan akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaannya.
3. Berkembangnya turisme dan pariwisata.
4. Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain.
5. Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, film dan lain lain.
6.Bertambah banyaknya event-event berskala global, seperti Piala Dunia FIFA
Globalisasi memengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan. Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia (sehingga menjadi budaya dunia atau world culture) telah terlihat semenjak lama. Cikal bakal dari persebaran budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa Barat ke berbagai tempat di dunia ini ( Lucian W. Pye, 1966 ).Namun, perkembangan globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal ke-20 dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Kontak melalui media menggantikan kontak fisik sebagai sarana utama komunikasi antar bangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antar bangsa lebih mudah dilakukan, hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan globalisasi kebudayaan.Semakin bertambah globalnya berbagai nilai budaya kaum kapitalis dalam masyarakat dunia. Merebaknya gaya berpakaian barat di negara-negara berkembang. Menjamurnya produksi film dan musik dalam bentuk kepingan CD/ VCD atau DVD.
Ciri berkembangnya globalisasi kebudayaan
1. Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional.
2. Penyebaran prinsip multikebudayaan (multiculturalism), dan kemudahan akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar kebudayaannya.
3. Berkembangnya turisme dan pariwisata.
4. Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain.
5. Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, film dan lain lain.
6.Bertambah banyaknya event-event berskala global, seperti Piala Dunia FIFA
7.Persaingan bebas dalam bidang ekonomi
8.Meningkakan interaksi budaya antar
negara melalui perkembangan media massa.
* Dampak Globalisasi Dalam Bidang Politik
Negara tidak lagi dianggap sebagai pemegang kunci dalam proses pembangunan. Para pengambil kebijakan publik di negara sedang berkembang mengambil jalan pembangunan untuk mengatasi masalah sosial dan ekonomi. Timbulnya gelombang demokratisasi ( dambaan akan kebebasan ).
* Dampak Globalisasi Dalam Bidang Pendidikan
kalau kita perhatikan di era globalisasi yang dibutuhkan adalah bagaimana diri kita dapat diterima keberadaannya di belahan dunia manapun, dengan bekal sertifikat Nasional apakah cukup tentunya untuk menghadapi era globalisasi kita membutuhkan sertifikasi internasional sebagai pengakuan atas eksistensi kita di level internasional, sehingga kita dapat berselancar ke negara manapun dengan sertifikat internasional yang kita miliki.
mungkin ke depan, peserta didik lebih memilih Ujian Internasional yang Ijazahnya dapat dibanggakan dan dapat digunakan untuk melanjutkan studi ke luar negerti dan mendapat pengakuan secara internasional.
masalahnya adalah,Apakah sekolah siap menyelenggarakan pendidikan bertaraf Internasional untuk mendapat Ijazah Internasional? ,Apakah Guru sudah kompeten dalam menyelenggarakan pendidikan?Jadi walaupun ada dampak positif globalisasi seperti telah di sebutkan diatas dan yang lainnya seperti hadirnya jaringan komunikasi dan informasi yang mempermudah kehidupan umat manusia, ditinjau dari sudut kepentingan masyarakat miskin, globalisasi lebih banyak dampak negatifnya. Kita melihat aspek negatif itu dalam ketidak-adilan perdagangan antar-bangsa, akumulasi kekayaan dan kekuasaan di tangan para kapitalis negara-negara maju yang mengakibatkan kemelaratan yang tak terbayangkan di negara-negara miskin, termasuk di Indonesia. Menurut Kucinich, Negara-negara miskin telah diperas lewat pembayaran beban utang ke lembaga global . Dicontohkan, setiap tahun 2,5 miliar dolar AS dana mengalir dari sub-Sahara Afrika ke kreditor internasional, sementara 40 juta warga mereka kurang gizi
Negara tidak lagi dianggap sebagai pemegang kunci dalam proses pembangunan. Para pengambil kebijakan publik di negara sedang berkembang mengambil jalan pembangunan untuk mengatasi masalah sosial dan ekonomi. Timbulnya gelombang demokratisasi ( dambaan akan kebebasan ).
* Dampak Globalisasi Dalam Bidang Pendidikan
kalau kita perhatikan di era globalisasi yang dibutuhkan adalah bagaimana diri kita dapat diterima keberadaannya di belahan dunia manapun, dengan bekal sertifikat Nasional apakah cukup tentunya untuk menghadapi era globalisasi kita membutuhkan sertifikasi internasional sebagai pengakuan atas eksistensi kita di level internasional, sehingga kita dapat berselancar ke negara manapun dengan sertifikat internasional yang kita miliki.
mungkin ke depan, peserta didik lebih memilih Ujian Internasional yang Ijazahnya dapat dibanggakan dan dapat digunakan untuk melanjutkan studi ke luar negerti dan mendapat pengakuan secara internasional.
masalahnya adalah,Apakah sekolah siap menyelenggarakan pendidikan bertaraf Internasional untuk mendapat Ijazah Internasional? ,Apakah Guru sudah kompeten dalam menyelenggarakan pendidikan?Jadi walaupun ada dampak positif globalisasi seperti telah di sebutkan diatas dan yang lainnya seperti hadirnya jaringan komunikasi dan informasi yang mempermudah kehidupan umat manusia, ditinjau dari sudut kepentingan masyarakat miskin, globalisasi lebih banyak dampak negatifnya. Kita melihat aspek negatif itu dalam ketidak-adilan perdagangan antar-bangsa, akumulasi kekayaan dan kekuasaan di tangan para kapitalis negara-negara maju yang mengakibatkan kemelaratan yang tak terbayangkan di negara-negara miskin, termasuk di Indonesia. Menurut Kucinich, Negara-negara miskin telah diperas lewat pembayaran beban utang ke lembaga global . Dicontohkan, setiap tahun 2,5 miliar dolar AS dana mengalir dari sub-Sahara Afrika ke kreditor internasional, sementara 40 juta warga mereka kurang gizi
9
Pengaruh Globalisasi
terhadap Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
Bangsa Indonesia
merupakan bagian dari bangsa di dunia. Sebagai bangsa, kita tidak hidup sendiri
melainkan hidup dalam satu kesatuan masyarakat dunia (world society).
Kita semua merupakan makhluk yang ada di bumi. Karena itu, manusia secara alam,
sosial, ekonomi, politik, keamanan, dan budaya tidak dapat saling terpisah
melainkan saling ketergantungan dan mempengaruhi.Era globalisasi yang merupakan
era tatanan kehidupan manusia secara global telah melibatkan seluruh umat
manusia. Secara khusus gelombang globalisasi itu memasuki tiga arena penting di
dalam kehidupan manusia, yaitu arena ekonomi, arena politik, dan arena
budaya.Jika masyarakat atau bangsa tersebut tidak siap menghadapi
tantangan-tantangan global yang bersifat multidimensi dan tidak dapat
memanfaatkan peluang, maka akan menjadi korban yang tenggelam di tengah-tengah
arus globalisasi.Dari sisi politik, gelombang globalisasi yang sangat kuat
yakni gelombang demokratisasi. Sesudah perang dingin dan rontoknya komunisme,
umat manusia menyadari bahwa hanya prinsip-prinsip demokrasi yang dapat membawa
manusia kepada taraf kehidupan yang lebih baik. Angin demokratisasi telah
merasuk ke dalam hati rakyat di setiap negara. Mereka melakukan gerakan sosial
dengan menggugat dan melawan sistem pemerintahan diktator atau pemerintahan
apapun yang tidak memihak rakyat.Kasus serupa juga terjadi di Indonesia, yaitu
dengan runtuhnya rezim pemerintahan Orde Lama dan runtuhnya rezim pemerintahan
Orde Baru. Di Indonesia sejak bergulirnya reformasi, gelombang demokratisasi
semakin marak dan tuntutan akan keterbukaan politik semakin terlihat.Dari sisi
budaya, era globalisasi ini membawa beraneka ragam budaya yang sangat
dimungkinkan mempengaruhi pola pikir, tingkah laku, dan sistem nilai masyarakat
suatu negara. Oleh karena itu, kita seharusnya waspada dan pandai menyiasati
pengaruh budaya silang sehingga bangsa kita dapat mengambil nilai budaya yang
positif yaitu mengambil nilai budaya yang bermanfaat bagi kehidupan dan
pembangunan bangsa serta tidak terjebak pada pengaruh-pengaruh budaya yang
negatif. Kita juga harus belajar melihat dunia dari perspektif yang berbeda
sesuai dengan kepentingan dan tujuan masing-masing tanpa melunturkan nilai
identitas budaya bangsa kita. Dengan memahami perbedaan dan persamaan
kebudayaan tadi akan menumbuhkan saling pengertian dan saling menghargai antar
kebudayaan yang ada.
10
Pengaruh Globalisasi
Terhadap Kebudayaan Indonesia
Globalisasi adalah suatu proses
tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi
pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian
ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik
kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh
dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005)
Menurut pendapat Krsna (Pengaruh Globalisasi Terhadap
Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang.internet.public
jurnal.september 2005). Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua
dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang
makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi
pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti
bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain-
lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam
globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala
informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh
dunia.Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.
Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi
kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi
yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai
bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya
dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa.
Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai- nilai
nasionalisme
1. Dilihat dari globalisasi
politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Karena
pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika pemerintahan djalankan
secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari
rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap negara
menjadi meningkat
2. Dari aspek globalisasi
ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan
meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan
kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.
3.
Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik
seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang
sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan
bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.
Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai- nilai
nasionalisme
1. Globalisasi mampu
meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan
kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi
Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa
nasionalisme bangsa akan hilang
2. Dari globalisasi aspek
ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya
produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di
Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan
gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
3. Mayarakat kita
khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa
Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh
masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.
4. Mengakibatkan adanya
kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya
persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan
pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan
nasional bangsa.
5. Munculnya sikap
individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga.
Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan
bangsa.
Pengaruh- pengaruh di
atas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Akan
tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa
menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala
masyarakat secara global.
Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme di
Kalangan Generasi Muda
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat
terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu
kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita
kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan
dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda
sekarang.
Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang
berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan
pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak
kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan
kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna.
Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi
identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan
mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.
Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan
informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak
muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari- hari. Jika digunakan secara
semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita
akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang
menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan
hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa
sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk
dengan menggunakan handphone.
Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya
tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap
lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga
mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda
yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan
masyarakat.
2.7 Cara Mencegah Dampak Bahaya
Global
Berdasarkan analisa dan uraian di atas pengaruh negatif
globalisasi lebih banyak daripada pengaruh positifnya. Oleh karena itu
diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap
nilai nasionalisme. Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif
globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme antara lain yaitu :
1. Menumbuhkan semangat
nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
2. Menanamkan dan mengamalkan
nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
3. Menanamkan dan melaksanakan
ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
4. Mewujudkan supremasi hukum,
menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil-
adilnya.
5. Selektif terhadap pengaruh
globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.
Kemajuan peradaban dan derap langkah pembangunan
merupakan dua hal yang umumnya berjalan secara beriringan. Melalui berbagai
aktifitas pembangunan itu manusia meningkatkan kualitas kehidupan,
mengkonstruksi tata-nilai kehidupan dan akhirnya membentuk sebuah peradaban. Di
era abad 21 sekarang ini, perkembangan derap peradaban manusia itu telah
mencapai suatu kondisi yang dicirikan dengan adanya interaksi yang semakin
intensif antar umat manusia, yang secara umum era seperti ini sering kita sebut
sebagai “era globalisasi”.
Kondisi keterhubungan (interconnectedness) antarmanusia
itu memberikan berbagai pengaruh dalam pembangunan peradaban era global. Harus
diakui bahwa dibalik berbagai pengaruh itu terdapat kemajuan-kemajuan yang
telah diperoleh, namun di sisi lain era globalisasi ini menghadirkan berbagai tantangan/
permasalahan, yang hampir seluruh permasalahan itu adalah hasil dari intensitas
interaksi antarmanusia di berbagai belahan bumi yang terus meningkat.
Pada era Globalisasi sekarang ini terjadi banyak peningkatan kualitas di segala bidang, menurut data dari WHO (World Health Organization), usia harapan hidup rata-rata umat manusia di dunia, yang di tahun 1955 adalah 48 tahun telah meningkat menjadi 62 tahun di tahun 2000. Selain itu, umat manusia pada era Globalisasi ini juga semakin terdidik yang ditunjukkan oleh data dari UNESCO yaitu jika di tahun 1970 masih ada 37% dari penduduk dunia yang buta huruf, jumlah itu sudah menurun menjadi hanya sekitar 18% penduduk dunia yang buta huruf di tahun 2004. Umat manusia saat ini juga dapat menikmati tatanan dunia yang relatif lebih damai dan secara geopolitis juga lebih stabil dibandingkan dengan beberapa era sebelumnya.
Pada era Globalisasi sekarang ini terjadi banyak peningkatan kualitas di segala bidang, menurut data dari WHO (World Health Organization), usia harapan hidup rata-rata umat manusia di dunia, yang di tahun 1955 adalah 48 tahun telah meningkat menjadi 62 tahun di tahun 2000. Selain itu, umat manusia pada era Globalisasi ini juga semakin terdidik yang ditunjukkan oleh data dari UNESCO yaitu jika di tahun 1970 masih ada 37% dari penduduk dunia yang buta huruf, jumlah itu sudah menurun menjadi hanya sekitar 18% penduduk dunia yang buta huruf di tahun 2004. Umat manusia saat ini juga dapat menikmati tatanan dunia yang relatif lebih damai dan secara geopolitis juga lebih stabil dibandingkan dengan beberapa era sebelumnya.
Dari perspektif kesejahteraan, juga dapat dikatakan bahwa
kesejahteraan manusia sekarang relatif lebih baik. Data dari UNDP (United
Nation Development Program) menyatakan bahwa di tahun 2006 lalu pertumbuhan
perekonomian dunia mencapai 5,4% dan pendapatan bruto dunia mencapai US$ 66
Trilyun jika dihitung berdasarkan skala PPP (Purchasing Power Parity). Dengan
tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,1% di tahun itu, maka UNDP menyatakan
bahwa pendapatan per kapita dunia naik rata-rata sebesar 4,3%. Dengan capaian
seperti itu, maka umat manusia boleh optimis bahwa di tahun 2015, jumlah orang
miskin di seluruh dunia dapat dikurangi sampai separuhnya, atau dengan kata
lain agenda pembangunan milenium atau Millenium Development Goals (MDG) dapat
diharapkan untuk tercapai sasarannya tepat waktu. Oleh karena itu, tampaknya
peradaban dunia pada era globalisasi ini sudah berjalan sesuai dengan track atau
jalur yang diharapkan untuk mencapai tujuan-tujuan luhur yang diinginkan secara
kolektif oleh seluruh umat manusia.
Meskipun demikian umat manusia di era globalisasi
sekarang ini juga menghadapi berbagai tantangan permasalahan peradaban yang
tidak sedikit dan bahkan berpotensi untuk mengancam jalannya pembangunan
berskala global untuk tercapainya kemaslahatan umat manusia. Meskipun
pendapatan dunia itu meningkat, namun harus diakui bahwa kesenjangan antara
kelompok manusia dengan kesejahteraan yang tinggi dengan kelompok manusia
dengan kesejahteraan rendah semakin lebar. Data dari UNDP memaparkan bahwa di
tahun 2006, sebanyak 2% dari orang-orang terkaya di dunia menguasai 50% sumber
daya di seluruh dunia dan analisa dari majalah Fortune 500 edisi akhir tahun
2006 pernah menyatakan bahwa penghasilan bersih dari 225 orang terkaya di dunia
hampir sama dengan pendapatan nasional dari 40% negara miskin dan negara
berkembang yang ada di seluruh dunia.
Pada intinya secara umum permasalahan globalisasi
memiliki dua sifat yaitu:
Unsur interrelasi yang sangat kuat, artinya permasalahan
globalisasi itu, sangat berpautan erat antara satu negara dengan beberapa
negara lain. Meskipun masalah- masalah itu pada mulanya dijumpai hanya di satu
atau beberapa negara akan tetapi lambat laun akan terjadi di seluruh negara di
berbagai belahan bumi. Apalagi dengan kemajuan teknologi transportasi dan
teknologi telekomunikasi dan informasi yang telah menyebabkan interaksi antar
manusia baik secara nyata maupun maya semakin meningkat, maka penyebaran dari
permasalahan globalisasi itu diperkirakan akan semakin cepat.
Keterjangkauan berskala global (global coverage), artinya
permasalahan globalisasi itu, dapat menyebar ke seluruh dunia, dan memberikan
dampak yang juga berskala dunia/global. Harus diakui bahwa kemajuan teknologi
informasi, telekomunikasi, dan transportasi berperan besar untuk
mendiseminasikan permasalahan globalisasi itu ke berbagai belahan bumi.
Dengan adanya dua sifat itu, maka dapat dikatakan bahwa
gejala keterhubungan (interconnectedness) antara berbagai masalah globalisasi
dengan hubungan antar bangsa telah semakin meningkat, dan hal itu sebenarnya
adalah sebuah konsekuensi logis dari globalisasi yang memang pada akhirnya akan
membawa manusia untuk menjadi semakin mudah dan semakin sering berinteraksi.
Namun di pihak lain, sifat jangkauan global dan dampak masalah globalnya juga
harus diwaspadai.
Dalam dunia yang semakin mengglobal dan diperkirakan akan
terus mengglobal di abad-abad berikutnya, maka berbagai masalah yang diawali
pada suatu lokasi di belahan bumi tertentu dapat memberikan dampaknya ke
seluruh planet bumi dan bahkan bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, maka
budaya peradaban di era globalisasi sekarang ini harus diarahkan pada suatu
asas komplementasi (complementary thinking) atau pola pikir untuk saling
melengkapi.
Asas komplementasi itu pada hakekatnya sejalan dengan
kompleksitas permasalahan di era global, yang menunjukkan semakin meningkatnya
pertautan antara satu kepentingan dengan kepentingan lain yang, mau tidak mau,
telah mendorong umat manusia untuk semakin saling bergantung atau interdependen
satu sama lain.
Pada dasarnya ada tiga prinsip penting yang harus
dijadikan acuan dalam pengembangan asas komplementer, yaitu:
1. Prinsip Keseimbangan (Equality)
Yang dimaksud
dengan prinsip keseimbangan adalah bahwa masing-masing pihak yang terlibat
dalam asas komplementer harus bersedia untuk berbagi kepentingan (interest)
yang dimilikinya dengan kepentingan pihak lain. Berbagi kepentingan di sini didasari
oleh pemahaman bahwa tantangan di era globalisasi bersifat sangat kompleks,
saling berpautan dan masing-masing bangsa di belahan bumi ini memiliki
kapasitasnya masing-masing yang khas, yang unik dan memiliki kontribusi yang
setara dalam porsinya masing-masing, untuk memberikan solusi yang bersifat
komprehensif dan berskala global.
2. Prinsip jangka
panjang (eternity)
Yang dimaksud dengan prinsip jangka panjang adalah bahwa
asas komplementer untuk menghadapi tantangan peradaban yang berskala global itu,
harus dilaksanakan dengan komitmen untuk terus menindaklanjutinya dalam skala
jangka panjang. Hal itu karena kondisi keterpautan dan kondisi saling
bergantung antar umat manusia justru akan semakin meningkat di masa datang.
Masalah globalisasi adalah masalah yang penyelesaiannya membutuhkan komitmen
jangka panjang dari seluruh bangsa di dunia. Tanpa adanya komitmen jangka
panjang, maka bentuk solusi apapun yang diberikan tidak akan efektif.
3. Prinsip
pembelajaran-kolektif (collective learning)
Yang dimaksud dengan pembelajaran kolektif bukanlah
memisahkan diri/ menghindari dari pengaruh asing (barat). Akan tetapi Prinsip
pembelajaran-kolektif adalah adanya semangat dan mentalitas dari segenap bangsa
untuk menjadikan kondisi saling melengkapi itu sebagai sebuah forum
pembelajaran. Hal ini didasari oleh prinsip, bahwasanya negara atau bangsa mana
pun di dunia memiliki fiturnya masing-masing yang semuanya diperlukan untuk
memberikan solusi yang tepat dari berbagai tantangan masa depan. Tentu saja
pembelajaran kolektif ini hanya dimungkinkan jika masing-masing negara/bangsa
mau berbagi kepentingan antara satu dengan lainnya. Dengan adanya pembelajaran
kolektif ini, maka kondisi saling ketergantungan itu justru akan menjadi
insentif bagi masing-masing negara/bangsa di dunia untuk mengembangkan
kapasitasnya masing-masing khususnya dalam mengatasi tantangan di era
globalisasi. Jadi seperti yang dipaparkan pada pembahasan “Masalah globalisasi”
diatas, yaitu tidak perlu bersolusi pada patokan “cara mengatasi masalah
globalisasi” karena itu hanya menimbulkan keterbatasan pembelajaran. Jika
pembelajaran terbatas maka mana mungkin kita dapat kolektif terhadap Globalitas
yang terjadi.
Ketiga prinsip tersebut harus ada pada asas
komplementasi. Karena tanpa adanya ketiga prinsip itu, maka asas komplementasi
tidak akan memberikan banyak manfaat, justru yang terjadi adalah, asas itu
hanya akan dimanfaatkan oleh negara/bangsa tertentu untuk mengatur dan
mengendalikan bangsa/negara lain. Sehingga bukan solusi yang akan dihasilkan,
namun justru berpotensi menghadirkan masalah baru yaitu neo-kolonialisme. Ada
pun bentuk perwujudan dari asas komplementasi adalah sebuah rangkaian pola
tindak yang mendorong adanya berbagai aktifitas kerjasama, kemitraan
(partnerships) dan hal-hal sejenis, yang sangat diperlukan untuk menghadapi
permasalahan-permasalahan yang akan terjadi di era globalisasi itu seiring
dengan semangat bahwa tantangan global harus diatasi dengan aktifitas global.
Oleh karena itu jangan takut menghadapi globalisasi(dampak negatif yang
terlihat),sebab rasa takut dan was-was akan secara otomatis membuat kita
menghindar dari salah satu efek global(mungkin yang menurut kita negatif), maka
yang terjadi adalah keterbelakangan kita di dalam era global yang sudah maju
sehingga menyebabkan masalah yang lebih berat lagi.
Peranan Asas Komplementasi
Peran asas komplementasi dalam pengembangan peradaban era
globalisasi itu nantinya adalah untuk memfasilitasi terlaksananya proses
inovasi terbuka (open innovation), yaitu sebuah proses inovasi yang hanya
dimungkinkan melalui suatu kerjasama yang intensif antara berbagai pihak yang
berbeda. Melalui inovasi terbuka itu diharapkan dapat diperoleh berbagai
alternatif solusi yang terbaik untuk mengantisipasi sejumlah tantangan di era
ini.
Ada tiga fitur penting dari inovasi terbuka, yaitu:
a. Transparansi
(transparency)
Inovasi terbuka
dihasilkan melalui kerjasama yang intensif antara beberapa pihak (termasuk juga
beberapa negara, dalam menghadapi isu global). Dengan demikian, maka proses
dari inovasi itu menjadi lebih transparan karena masing-masing pihak yang
terlibat didalamnya memiliki akses yang setara dalam setiap langkah dalam
proses inovasi itu. Sebagai misal, sebuah proses inovasi terbuka untuk
memproduksi vaksin anti virus H5N1 yang menyebabkan penyakit flu burung akan
menjadikan adanya kesetaraan antara negara-negara yang telah maju dalam bidang
teknologinya dengan negara-negara lain yang belum maju, akan tetapi sanggup
menyediakan bahan baku berupa sampel virus tersebut. Sehingga produk vaksin
yang dihasilkan akan memberikan manfaat yang lebih setara sesuai dengan agenda
yang disepakati bersama.
b. Menyeluruh (comprehensiveness)
Proses inovasi terbuka menuntut adanya peninjauan dari
berbagai aspek dalam setiap langkah untuk memproduksi inovasi. Atau kata lain,
dalam proses inovasi terbuka, tidak saja aspek ekonomi dan finansial yang
diperhitungkan, akan tetapi juga aspek sosial dan lingkungan hidup. Hal itu
karena inovasi terbuka merupakan aktifitas yang dilakukan secara kolektif,
dengan para peserta yang umumnya memiliki kondisi yang beragam. Sebagai misal
untuk merancang sebuah inovasi terbuka guna mengatasi efek gas rumah kaca yang
menghasilkan pemanasan global maka ketika negara-negara maju dengan
teknologinya yang lebih ramah lingkungan bekerjasama dengan negara-negara
berkembang dengan teknologi yang lebih terbelakang, namun memiliki potensi
perlindungan lingkungan yang lebih baik, misalnya areal hutan yang luas dan
cadangan air bersih yang lebih banyak, maka kedua belah pihak, baik negara maju
maupun negara berkembang, mau tidak mau, harus mengedepankan berbagai aspek dan
tidak mungkin kalau hanya mengedepankan aspek keuntungan ekonomi semata.
c. Kesesuaian (adaptability)
Karena inovasi terbuka itu prosesnya dilakukan secara
bersama-sama dengan mengikutsertakan kepentingan berbagai pihak, maka tentunya
hasil dari proses inovasi itu akan lebih cocok dan lebih sesuai untuk
diterapkan oleh para pesertanya. Terkadang terjadi kasus, dimana inovasi yang
dihasilkan hanya cocok untuk peserta tertentu akan tetapi kurang tepat untuk
diterapkan bagi peserta lainnya. Sebagai misal, untuk masalah ketersediaan
energi, solusi dengan menawarkan alternatif sumber energi terbarukan, misalnya,
sumber energi angin, gelombang laut atau sinar matahari tentunya sangat
bergantung pada kondisi fisis dari negara-negara tertentu saja.
Dalam tatanan dunia global sekarang ini hal yang paling
perlu untuk diperhitungkan adalah menjadikan proses inovasi terbuka itu sebagai
arena pembelajaran, sehingga dapat diperoleh manfaat sebanyak mungkin. Tanpa
adanya pembelajaran maka suatu bangsa hanya akan memperoleh manfaat yang
terbatas dari proses inovasi terbuka atau bahkan globalisasi itu sendiri.
Termasuk juga dalam kawasan globalisasi kebudayaan, globalisasi kebudayaan memang merupakan universalisme kebudayaan, namun universalisme yang tertuang dalam globalisasi tetap mempunyai sebuah system yang mengatur dan mengarahkannya, sehingga globalitas kebudayaan tersebut tidak menimbulkan pertentangan dari teory relativisme dari kaum radikal yang menganggap sesuatu yang baru muncul pada era globalisasi akan benar-benar mengubah dunia secara radikal dan menghancurkan kebudayaan-kebudayaan lokal.
Termasuk juga dalam kawasan globalisasi kebudayaan, globalisasi kebudayaan memang merupakan universalisme kebudayaan, namun universalisme yang tertuang dalam globalisasi tetap mempunyai sebuah system yang mengatur dan mengarahkannya, sehingga globalitas kebudayaan tersebut tidak menimbulkan pertentangan dari teory relativisme dari kaum radikal yang menganggap sesuatu yang baru muncul pada era globalisasi akan benar-benar mengubah dunia secara radikal dan menghancurkan kebudayaan-kebudayaan lokal.
Dengan adanya langkah- langkah antisipasi tersebut
diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai
nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian
bangsa. Secara umum dampak globalisasi saat ini terjadi pergeseran ideologi dan
politik. Dampak negatif, terjadinya pemiskinan spiritual, di mana tindakan
sosial dianggap sebagai tindakan yang tidak rasional, nafsu hawaniayah menjadi
pemandu kehidupan, agama hanya hadir dalam pikiran, lisan dan tulisan, akan
tetapi tidak hadir dalam perilaku dan tindakan. Secara umum dampak globalisasi
saat ini terjadi pergeseran ideologi dan politik. Dampak negatif, terjadinya
pemiskinan spiritual, di mana tindakan sosial dianggap sebagai tindakan yang
tidak rasional, nafsu hawaniayah menjadi pemandu kehidupan, agama hanya hadir
dalam pikiran, lisan dan tulisan, akan tetapi tidak hadir dalam perilaku dan
tindakan. Untuk menangkal dampak negatif globalisasi, diperlukan peningkatan
Sumber Daya Manusia (SDM) dengan pendidikan yang diimplikasikan dengan
membangun pendidikan sekolah, madrasah yang berkualitas, meningkatkan
pendidikan formil dan spiritual ke pelosok-pelosok dan pedalaman.“Jadikan
sekolah-sekolah kita rebutan, bukan pelarian, sekolah kita selalu dirindukan
bukan dikomersilkan, bagaimana sekolah bisa mensejahterakan bukan menambah
kesengsaraan “( Nizar Syarif )“dahulu berjuang melawan musuh penjajahan dengan
berlumuran darah, kini musuh sudah masuk ke kamar tidur, sudut-sudut rumah
tidak melumurkan darah, tapi melumurkan moral seperti masuknya tayangan
sinetron televisi yang merusak moral.”Sebagai dampak negatif globalisasi,
sebagian keluarga sebagai unit terkecil kehilangan fungsinya sebagai tempat
pembinaan, ikatan moral semangkin lemah dan keluarga hanya dianggap sebagai
tempat singgah. Oleh karena itu kita supaya memperdalam kajian ilmu pengetahuan,
tingkatkan pembinaan keluarga, kewaspadaan gerakan yang mengancam Ideologi
Pancasila, gerakan yang membahayakan aqidah islamiyah dan akhlakul karimah,
maka kita semua sebagai warga Indonesia wajib membanggakan apa saja yang sudah
menjadi budaya kita sendiri”, jangan sampai melupakan budaya lama dengan sudah
menemukan budaya baru.Masuknya budaya asing ke suatu negara sebenarnya
merupakan hal yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai dengan kepribadian
bangsa namun kita harus tetap menjaga agar budaya kita tidak luntur.
Langkah-langkah untuk mengantisipasinya adalah antara lain dengan cara,
Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk
dalam negeri, Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik-
baiknya, Melaksanakan ajaran Agama dengan sebaik- baiknya dan Selektif terhadap
pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya
bangsa. Sebagai identitas bangsa, budaya lokal harus terus dijaga keaslian
maupun kepemilikannya agar tidak dapat diakui oleh negara lain. Walaupun
demikian, tidak menutup kemungkinan budaya asing masuk asalkan sesuai dengan
kepribadian negara karena suatu negara juga membutuhkan input-input dari negara
lain yang akan berpengaruh terhadap perkembangan di negaranya.Kemudian
tingkatkan kurikulum pendidikan berwawasan, serta jabarkan nilai-nilai Al Quran
dan hadis bagi yang beragama islam di dalam kehidupan bermasyarakat dan
berorganisasi.
Pancasila Dalam Menghadapi
Globalisasi
Pancasila
sebagai dasar negara Indonesia yang sudah ditentukan oleh para pendiri negara
ini haruslah menjadi sebuah acuan dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan
bernegara,berbagai tantangan dalam menjalankan ideologi pancasila juga tidak
mampu untuk menggantikankan pancasila sebagai ideologi bangsa
Indonesia,pancasila terus dipertahankan oleh segenap bangsa Indonesia sebagai
dasar negara,itu membuktikan bahwa pancasila merupakan ideologi yang sejati
untuk bangsa Indonesia.
Oleh karena
itu tantangan di era globalisasi yang bisa mengancam eksistensi kepribadian
bangsa,dan kini mau tak mau,suka tak suka ,bangsa Indonesia berada di pusaran
arus globalisasi dunia. Tetapi harus diingat bahwa bangsa dan negara Indonesia
tak mesti kehilangan jatidiri,kendati hidup ditengah-tengah pergaulan
dunia.Rakyat yang tumbuh di atas kepribadian bangsa asing mungkin saja
mendatangkan kemajuan, tetapi kemajuan tersebut akan membuat rakyat tersebut
menjadi asing dengan dirinya sendiri. Mereka kehilangan jatidiri yang
sebenarnya sudah jelas tergambar dari nilai-nilai luhur pancasila.
Dalam arus
globalisasi saat ini dimana tidak ada lagi batasan-batasan yang jelas antar
setiap bangsa Indonesia,rakyat dan bangsa Indonesia harus membuka diri.
Dahulu,sesuai dengan tangan terbuka menerima masuknya pengaruh budaya
hindu,islam,serta masuknya kaum barat yang akhirnya melahirkan kolonialisme.
Pengalaman pahit berupa kolonialisme tentu sangat tidak menyenangkan untuk
kembali terulang. Patut diingat bahwa pada zaman modern sekarang ini wajah
kolonialisme dan imperialisme tidak lagi dalam bentuk fisik, tetapi dalam wujud
lain seperti penguasaan politik dan ekonomi. Meski tidak berwujud fisik, tetapi
penguasaan politik dan ekonomi nasional oleh pihak asing akan berdampak sama
seperti penjajahan pada masa lalu, bahkan akan terasa lebih menyakitkan.
Dalam
pergaulan dunia yang kian global, bangsa yang menutup diri rapat-rapat dari
dunia luar bisa dipastikan akan tertinggal oleh kemajuan zaman dan kemajuan
bangsa-bangsa lain. Bahkan, negara sosialis seperti Uni Soviet—yang terkenal
anti dunia luar—tidak bisa bertahan dan terpaksa membuka diri. Maka, kini,
konsep pembangunan modern harus membuat bangsa dan rakyat Indonesia membuka
diri. Dalam upaya untuk meletakan dasar-dasar masyarakat modern, bangsa
Indonesia bukan hanya menyerap masuknya modal, teknologi, ilmu pengetahuan, dan
ketrampilan, tetapi juga terbawa masuk nilai-nilai sosial politik yang berasal
dari kebudayaan bangsa lain. Yang terpenting adalah bagaimana bangsa dan rakyat
Indonesia mampu menyaring agar hanya nilai-nilai kebudayaan yang baik dan
sesuai dengan kepribadian bangsa saja yang terserap. Sebaliknya, nilai-nilai
budaya yang tidak sesuai apalagi merusak tata nilai budaya nasional mesti
ditolak dengan tegas. Kunci jawaban dari persoalan tersebut terletak pada
Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara. Bila rakyat dan bangsa
Indonesia konsisten menjaga nilai-nilai luhur bangsa, maka nilai-nilai atau
budaya dari luar yang tidak baik akan tertolak dengan sendirinya. Cuma,
persoalannya, dalam kondisi yang serba terbuka seperti saat ini justeru jati
diri bangsa Indonesia tengah berada pada titik nadir.
Bangsa dan
rakyat Indonesia kini seakan-akan tidak mengenal dirinya sendiri sehingga
budaya atau nilai-nilai dari luar baik yang sesuai maupun tidak sesuai terserap
bulat-bulat. Nilai-nilai yang datang dari luar serta-merta dinilai bagus,
sedangkan nilai-nilai luhur bangsa yang telah tertanam sejak lama dalam hati
sanubari rakyat dinilai usang. Lihat saja sistem demokrasi yang kini tengah
berkembang di Tanah Air yang mengarah kepada faham liberalisme. Padahal, negara
Indonesia—seperti ditegaskan dalam pidato Bung Karno di depan Sidang Umum
PBB—menganut faham demokrasi Pancasila yang berasaskan gotong royong,
kekeluargaan, serta musyawarah dan mufakat.
Sistem
politik yang berkembang saat ini sangat gandrung dengan faham liberalisme dan
semakin menjauh dari sistem politik berdasarkan Pancasila yang seharusnya
dibangun dan diwujudkan rakyat dan bangsa Indonesia. Terlihat jelas betapa
demokrasi diartikan sebagai kebebasan tanpa batas. Hak asasi manusia (HAM)
dengan keliru diterjemahkan dengan boleh berbuat semaunya dan tak peduli apakah
merugikan atau mengganggu hak orang lain. Budaya dari luar, khususnya faham
liberalisme, telah merubah sudut pandang dan jati diri bangsa dan rakyat
Indonesia. Pergeseran nilai dan tata hidup yang serba liberal memaksa bangsa
dan rakyat Indonesia hidup dalam ketidakpastian. Akibatnya, seperti terlihat
saat ini, konstelasi politik nasional serba tidak jelas. Para elite politik
tampak hanya memikirkan kepentingan dirinya dan kelompoknya semata.
Dalam
kondisi seperti itu—sekali lagi—peran Pancasila sebagai pandangan hidup dan
dasar negara memegang peranan penting. Pancasila akan menilai nilai-nilai mana
saja yang bisa diserap untuk disesuaikan dengan nilai-nilai Pancasila sendiri.
Dengan begitu, nilai-nilai baru yang berkembang nantinya tetap berada di atas
kepribadian bangsa Indonesia. Pasalnya, setiap bangsa di dunia sangat
memerlukan pandangan hidup agar mampu berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas
arah dan tujuan yang hendak dicapai. Dengan pandangan hidup, suatu bangsa
mempunyai pedoman dalam memandang setiap persoalan yang dihadapi serta mencari
solusi dari persoalan tersebut .
Dalam
pandangan hidup terkandung konsep mengenai dasar kehidupan yang dicita-citakan
suatu bangsa. Juga terkandung pikiran-pikiran terdalam dan gagasan suatu bangsa
mengenai wujud kehidupan yang dicita-citakan. Pada akhirnya pandangan hidup
bisa diterjemahkan sebagai sebuah kristalisasi dari nilai-nilai yang dimiliki
suatu bangsa yang diyakini kebenarannya serta menimbulkan tekad bagi bangsa
yang bersangkutan untuk mewujudkannya. Karena itu, dalam pergaulan kehidupan
berbangsa dan bernegara, bangsa Indonesia tidak bisa begitu saja mencontoh atau
meniru model yang dilakukan bangsa lain, tanpa menyesuaikan dengan pandangan
hidup dan kebutuhan bangsa Indonesia sendiri.
2.8 Peran Pemerintah Dalam
Globalisasi
PENTINGNYA peran negara dan pemerintah dalam pembangunan
ekonomi ditegaskan kembali dalam konferensi gabungan pebisnis dan pejabat
pemerintah Asia di Boao, China, awal pekan ini. Namun, bukankah peran swasta
lebih diandalkan dalam era globalisasi sekarang ini?
Penegasan tentang peran pemerintah yang disampaikan di forum pertemuan tahunan di Boao dianggap penting lebih-lebih di tengah munculnya asumsi, peran negara dan pemerintah cenderung melemah oleh tuntutan globalisasi yang lebih mengandalkan swasta dan masyarakat.Pertemuan tahunan Boao Forum for Asia Annual Conference 2004 merupakan forum bersama bagi pejabat pemerintah dan pelaku bisnis dari 42 negara, terutama dari kawasan Asia. Meski tidak mempertentangkan peran pemerintah dan masyarakat, forum pertemuan tahunan ketiga itu menekankan pentingnya peran pemerintahan yang kuat.Forum pertemuan pejabat pemerintah dengan pebisnis itu termasuk penting, antara lain terlihat dari kehadiran Presiden Amerika Serikat George Walker Bush, Presiden China Hu Jintao, Presiden Ceko Vaclav Klaus, dan masih banyak lagi. PENEKANAN tentang pentingnya pemerintahan kuat terdengar paradoks dengan tuntutan globalisasi yang menekankan fungsi masyarakat dan dunia swasta. Selama ini berkembang wacana, peran pemerintah akan surut di tengah meningkatnya peran masyarakat dalam bidang ekonomi dan berbagai bidang lainnya.Apalagi peran pebisnis dan perusahaan besar sangat penting dan menentukan dalam kegiatan perekonomian berskala global. Namun, di tengah hiruk-pikuk aktivitas perdagangan dan perekonomian global, peran pemerintah sebagai regulator justru semakin penting dan menentukan. Bayangkan, kekacauan akan mudah terjadi jika tidak ada regulasi yang jelas.Fungsi regulasi pemerintah justru dibutuhkan untuk menjamin kompetisi yang lebih sehat di kalangan swasta yang bertarung keras dalam kegiatan ekonomi. Pebisnis perlu rambu jelas dalam kegiatannya sehingga tidak kehilangan arah dalam arus perubahan global yang berlangsung cepat.
PEMERINTAH yang kuat maupun pebisnis yang tangguh sama-sama dibutuhkan dan menjadi tuntutan globalisasi. Pebisnis dituntut melakukan kegiatan ekonomi berskala global, melewati batas wilayah dan kawasan. Ruang dan kecepatan bergerak para pebisnis bertambah cepat, yang dimungkinkan oleh kemajuan teknologi telekomunikasi dan transportasi. Proses globalisasi pun berjalan secara cepat dan serempak. Hambatan ruang dan waktu menjadi nisbi. Proses globalisasi mempercepat pula langkah privatisasi dalam bidang ekonomi banyak negara. Kegiatan ekonomi di mana-mana semakin berada dalam kendali dan kepemilikan swasta. Badan-badan usaha yang dulu berada di bawah kendali dan kepemilikan negara umumnya mengalami proses privatisasi.Proses privatisasi tidak hanya menjadi fenomena di negara-negara kapitalis-liberal, tetapi sudah menjadi kecenderungan global, termasuk di China yang secara politik masih menganut komunisme. Proses privatisasi di China sudah berkembang pesat.TUNTUTAN percepatan privatisasi di banyak negara tidak hanya karena dampak langsung proses liberalisasi dan globalisasi ekonomi, tetapi juga karena badan usaha yang berada dalam pengelolaan negara cenderung kurang efisien dan efektif. Hambatan birokratis membuat biaya tinggi dan mendatangkan kerugian.Pemerintah yang sudah memegang kendali kekuasaan mudah pula tergoda menyalahgunakannya dengan melakukan kolusi dan korupsi. Maka privatisasi diyakini sebagai bentuk jalan keluar. Meski pelaku ekonomi mengalami pergeseran besar dari negara ke masyarakat, peran negara dan pemerintah tetap strategis dan penting. Apalagi pergaulan antarbangsa dan negara masih berdasarkan kerangka negara dan pemerintahan. Kerja sama internasional pada berbagai bidang masih terikat pada negara dan pemerintah. Eksistensi negara sama sekali tidak pudar dan surut di tengah meningkatnya peran masyarakat dalam hubungan dan kerja sama ekonomi global. TENTU saja, posisi dan peran pemerintah dalam era globalisasi sudah banyak berubah. Pemerintah dilepaskan dari berbagai tanggung jawab mengelola langsung perusahaan atau badan usaha, tetapi posisi dan perannya sebagai regulator justru meningkat tajam.Hanya saja, standardisasi dan kualifikasi tentang peran dan fungsi pemerintah di tengah era globalisasi semakin tinggi. Sudah menjadi tuntutan umum tentang pentingnya pemerintahan baik dan bersih, good and clean governance.Pencitraan tentang pemerintahan kuat dan efektif tidak lagi diukur pada kemampuan melakukan intimidasi, tetapi lebih pada kredibilitas dan kewibawaan menegakkan keadilan, memberantas korupsi, menjamin supremasi hukum, perlindungan hak asasi, dan proses demokratisasi.Tidak kalah pentingnya, bagaimana pemerintah mendorong terciptanya lingkungan kondusif yang memungkinkan proses kreativitas masyarakat dapat berkembang baik. Tanpa terciptanya situasi kondusif, investor asing pun enggan datang menanamkan modalnya.
Penegasan tentang peran pemerintah yang disampaikan di forum pertemuan tahunan di Boao dianggap penting lebih-lebih di tengah munculnya asumsi, peran negara dan pemerintah cenderung melemah oleh tuntutan globalisasi yang lebih mengandalkan swasta dan masyarakat.Pertemuan tahunan Boao Forum for Asia Annual Conference 2004 merupakan forum bersama bagi pejabat pemerintah dan pelaku bisnis dari 42 negara, terutama dari kawasan Asia. Meski tidak mempertentangkan peran pemerintah dan masyarakat, forum pertemuan tahunan ketiga itu menekankan pentingnya peran pemerintahan yang kuat.Forum pertemuan pejabat pemerintah dengan pebisnis itu termasuk penting, antara lain terlihat dari kehadiran Presiden Amerika Serikat George Walker Bush, Presiden China Hu Jintao, Presiden Ceko Vaclav Klaus, dan masih banyak lagi. PENEKANAN tentang pentingnya pemerintahan kuat terdengar paradoks dengan tuntutan globalisasi yang menekankan fungsi masyarakat dan dunia swasta. Selama ini berkembang wacana, peran pemerintah akan surut di tengah meningkatnya peran masyarakat dalam bidang ekonomi dan berbagai bidang lainnya.Apalagi peran pebisnis dan perusahaan besar sangat penting dan menentukan dalam kegiatan perekonomian berskala global. Namun, di tengah hiruk-pikuk aktivitas perdagangan dan perekonomian global, peran pemerintah sebagai regulator justru semakin penting dan menentukan. Bayangkan, kekacauan akan mudah terjadi jika tidak ada regulasi yang jelas.Fungsi regulasi pemerintah justru dibutuhkan untuk menjamin kompetisi yang lebih sehat di kalangan swasta yang bertarung keras dalam kegiatan ekonomi. Pebisnis perlu rambu jelas dalam kegiatannya sehingga tidak kehilangan arah dalam arus perubahan global yang berlangsung cepat.
PEMERINTAH yang kuat maupun pebisnis yang tangguh sama-sama dibutuhkan dan menjadi tuntutan globalisasi. Pebisnis dituntut melakukan kegiatan ekonomi berskala global, melewati batas wilayah dan kawasan. Ruang dan kecepatan bergerak para pebisnis bertambah cepat, yang dimungkinkan oleh kemajuan teknologi telekomunikasi dan transportasi. Proses globalisasi pun berjalan secara cepat dan serempak. Hambatan ruang dan waktu menjadi nisbi. Proses globalisasi mempercepat pula langkah privatisasi dalam bidang ekonomi banyak negara. Kegiatan ekonomi di mana-mana semakin berada dalam kendali dan kepemilikan swasta. Badan-badan usaha yang dulu berada di bawah kendali dan kepemilikan negara umumnya mengalami proses privatisasi.Proses privatisasi tidak hanya menjadi fenomena di negara-negara kapitalis-liberal, tetapi sudah menjadi kecenderungan global, termasuk di China yang secara politik masih menganut komunisme. Proses privatisasi di China sudah berkembang pesat.TUNTUTAN percepatan privatisasi di banyak negara tidak hanya karena dampak langsung proses liberalisasi dan globalisasi ekonomi, tetapi juga karena badan usaha yang berada dalam pengelolaan negara cenderung kurang efisien dan efektif. Hambatan birokratis membuat biaya tinggi dan mendatangkan kerugian.Pemerintah yang sudah memegang kendali kekuasaan mudah pula tergoda menyalahgunakannya dengan melakukan kolusi dan korupsi. Maka privatisasi diyakini sebagai bentuk jalan keluar. Meski pelaku ekonomi mengalami pergeseran besar dari negara ke masyarakat, peran negara dan pemerintah tetap strategis dan penting. Apalagi pergaulan antarbangsa dan negara masih berdasarkan kerangka negara dan pemerintahan. Kerja sama internasional pada berbagai bidang masih terikat pada negara dan pemerintah. Eksistensi negara sama sekali tidak pudar dan surut di tengah meningkatnya peran masyarakat dalam hubungan dan kerja sama ekonomi global. TENTU saja, posisi dan peran pemerintah dalam era globalisasi sudah banyak berubah. Pemerintah dilepaskan dari berbagai tanggung jawab mengelola langsung perusahaan atau badan usaha, tetapi posisi dan perannya sebagai regulator justru meningkat tajam.Hanya saja, standardisasi dan kualifikasi tentang peran dan fungsi pemerintah di tengah era globalisasi semakin tinggi. Sudah menjadi tuntutan umum tentang pentingnya pemerintahan baik dan bersih, good and clean governance.Pencitraan tentang pemerintahan kuat dan efektif tidak lagi diukur pada kemampuan melakukan intimidasi, tetapi lebih pada kredibilitas dan kewibawaan menegakkan keadilan, memberantas korupsi, menjamin supremasi hukum, perlindungan hak asasi, dan proses demokratisasi.Tidak kalah pentingnya, bagaimana pemerintah mendorong terciptanya lingkungan kondusif yang memungkinkan proses kreativitas masyarakat dapat berkembang baik. Tanpa terciptanya situasi kondusif, investor asing pun enggan datang menanamkan modalnya.
2.9 Masyarakat Dalam Menghadapi Globalisasi
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat sangat ramah ,menghargai perbedaan, menghormati antar sesama dan berakhlak baik. Dalam menyelesaikan masalahpun masyarakat Indonesia selalu dengan musyawarah ,sehingga mencapai persetujuan yang sama . tetapi sekarang masyarakat indonesia sangat berbeda dengan apa yang saya sebutkan tadi. Saat ini masyarakat Indonesia mengalami krisis moral sehingga mereka berpikir pendek, tidak menghargai perbedaan, sangat labil emosinya dan malas. Mengapa hal ini terjadi ? hal ini terjadi dikarenakan masyarakat sulit menyaring informasi dari media seperti TV, Internet dan lain lain. Informasi yang baik dan buruk mereka terima begitu saja dan di aplikasikan di kehidupan mereka . faktor lainnya , dikarenakan pembangunan ekonomi yang tidak merata, hidup tidak sejahtera dan kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya.
Akibat adanya globalisasi pada teknologi terdapat dampak buruk dan baik sehingga kita perlu berhati hati .Kita perlu waspada terhadap informasi yang kita terima. Tidak semua informasi harus kita terima begitu saja dan dilakukan di kehidupan . banyak budaya luar yang seharunya kita tidak dapatkan, misalkan gaya hidup yang kurang baik , etika berbicara yang kasar, mengikuti mode pakaian yang terlalu terbuka dan lain lain yang menyebabkan hilangnya budaya pancasila dan aturan agama yang diabakan, hal ini sudah di rasakan dengan fakta fakta yang terjadi dilingkungan kita misalnya dimanfaatkan teknologi informasi sebagai sarana untuk melakukan penipuan , melakukan penghinaan terhadap agama/SARA , pornographi dan mempelajari hal yang tidak baik. Hal itu disebabkan kemajuan teknologi pada system jaringan yang tidak di saring informasi buruknya. dampak baik adanya globalisasi, komunikasi dapat dilakukan dengan cepat. Teknologi selalu berkembang dengan pesat, komputer dan handphone sebagai sarana nomor satu dalam mencari informasi , pemahaman masyarakat terhadap internet semakin tinggi dalam jaringan serta pemanfaat komputer dan sistemnya, semakin kreatifnya anak bangsa dalam melakukan proses pembelajaran, mempermudah pekerjaan misalnya internet banking, membeli barang, bersosialisasi, mencari pekerjaan dan info lainnya.
Manusia yang baik adalah manusia yang memahami apa yang baik dan buruk bagi orang lain sehingga menghindari yang buruk dan mencari hal yang baik demi mendapatkan lingkungan yang sejahtera bagi orang lain dan dirinya . Namun dengan berkembangnya teknologi misalnya system komputer , teknologi informasi dan globalisasi yang sudah ada sejak dahulu. Banyak dimanfaatkan masyarakat untuk hal yang kurang bermanfaat dan tidak baik. Dalam menghadapi informasi yang kita dapatkan, kita harus mencerna dan membiasakan diri mencari informasi seakan akan untuk mencari pengetahuan dan ilmu Untuk mewujudkan hal tersebut maka kita harus mengetahui dampak yang akan terjadi jika melakukan hal yang negatif akbiat dari informasi yang tidak baik. Selain itu peran orang tua juga sangat penting oleh sebab itu sebaiknya orang tua lebih memahami teknologi komputer dan internet dari pada anaknya , agama serta pendidikan juga sangat penting. Dengan mempelajari agama dan memperbanyak waktu untuk belajar maka seseorang akan lebih focus kepada kegiatannya . dengan kegiatan tersebut saya yakin masyarakat indonesia akan menjadikan masyarakat yang cerdas bukan hanya kecerdasan IQ nya saja ,namun kecerdasan ESQ pun akan tinggi, sehingga akan dapat menyaring informasi yang buruk dan mengambil informasi yang baik saja .
Jadi dengan fenomena Globalisasi interaksi antara manusia , manusia dengan informasi , yang menyebabkan manusia terpengaruh oleh informasi tersebut akan berkurang bahkan tidak ada jika kita menerapkan kegiatan agama, pembelajaran dan bimbingan orang tua . dalam hal kemajuan teknologi juga kita harus mendidik anak bangsa agar memanfaatkannya dengan baik , alangkah baiknya jika sekolah sekolah memberi edukasi menghadapi dunia era Globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang selama ini tidak pernah dan jarang dilakukan oleh lembaga pendidikan
Dengan demikian dalam menghadapi Globalisasi demi menjaga budaya , perilaku dan jiwa kita harus menjadi orang yang cerdas dalam mendapatkan informasi agar tidak terpengaruh budaya kurang baik . oleh sebab itu dibutuhkan usaha dari pemerintah, masyarakat dan dari diri kita sendiri . agar dapat memanfaatkan teknologi yang sangat modern dan canggih dengan sebaik baiknya
2.10 Pengertian Moral
Moralitas berasal dari
kata dasar “moral” berasal dari kata “mos” yang berarti kebiasaan. Kata “mores”
yang berarti kesusilaan, dari “mos”, “mores”. Moral adalah ajaran tentang baik
buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan lain-lain;
akhlak budi pekerti; dan susila. Kondisi mental yang membuat orang tetap
berani; bersemangat; bergairah; berdisiplin dan sebagainya.Moral secara
etimologi diartikan: a) Keseluruhan kaidah-kaidah kesusilaan dan kebiasaan yang
berlaku pada kelompok tertentu, b) Ajaran kesusilaan, dengan kata lain ajaran
tentang azas dan kaidah kesusilaan yang dipelajari secara sistimatika dalam
etika. Dalam bahasa Yunani disebut “etos” menjadi istilah yang berarti norma,
aturan-aturan yang menyangkut persoalan baik dan buruk dalam hubungannya dengan
tindakan manusia itu sendiri, unsur kepribadian dan motif, maksud dan watak manusia.
kemudian “etika” yang berarti kesusilaan yang memantulkan bagaimana sebenarnya
tindakan hidup dalam masyarakat, apa yang baik dan yang buruk. Moralitas yang
secara leksikal dapat dipahami sebagai suatu tata aturan yang mengatur
pengertian baik atau buruk perbuatan kemanusiaan, yang mana manusia dapat
membedakan baik dan buruknya yang boleh dilakukan dan larangan sekalipun dapat
mewujudkannya, atau suatu azas dan kaidah kesusilaan dalam hidup
bermasyarakat.Secara terminologi moralitas diartikan oleh berbagai tokoh dan
aliran-aliran yang memiliki sudut pandang yang berbeda: Franz Magnis Suseno
menguraikan moralitas adalah keseluruhan norma-norma, nilai-nilai dan sikap
seseorang atau sebuah masyarakat. Menurutnya, moralitas adalah sikap hati yang
terungkap dalam perbuatan lahiriah (mengingat bahwa tindakan merupakan ungkapan
sepenuhnya dari hati), moralitas terdapat apabila orang mengambil sikap yang
baik karena Ia sadar akan kewajiban dan tanggung jawabnya dan bukan ia mencari
keuntungan. Moralitas sebagai sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa
pamrih.
W. Poespoprodjo,
moralitas adalah kualitas dalam perbuatan manusia yang dengan itu kita berkata
bahwa perbuatan itu benar atau salah, baik atau buruk atau dengan kata lain
moralitas mencakup pengertian tentang baik buruknya perbuatan manusia.
Immanuel Kant,
mengatakan bahwa moralitas itu menyangkut hal baik dan buruk, yang dalam bahasa
Kant, apa yang baik pada diri sendiri, yang baik pada tiap pembatasan sama
sekali. Kebaikan moral adalah yang baik dari segala segi, tanpa pembatasan,
jadi yang baik bukan hanya dari beberapa segi, melainkan baik begitu saja atau
baik secara mutlak.
Emile Durkheim mengatakan,
moralitas adalah suatu sistem kaidah atau norma mengenai kaidah yang menentukan
tingka laku kita. Kaidah-kaidah tersebut menyatakan bagaimana kita harus
bertindak pada situasi tertentu. Dan bertindak secara tepat tidak lain adalah
taat secara tepat terhadap kaidah yang telah ditetapkan.Moral, saat ini jelas
sekali masyarakat sedang mengalami degradasi moral, yang diakibatkan oleh
situasi pelik politik Indonesia sehingga kita sebagai masyarakat mendapatkan
imbasnya/dampaknya. Seperti halnya negara mengalami krisis ekonomi, maka
masyarakat akan mengalami dampaknya. Begitu juga dengan krisis moral yang
disadari maupun tidak masyarakat akan mengalami efeknya.Kita prihatin dengan
kondisi tatanegara, lalu kita lampiaskan dengan sumpah serapah juga cacimakian,
atau bahkan yang lebih jauh menghina bangsa sendiri. Maka bisa disebutkan
kitapun mengalami penurunan moral. Namun saat bicara tentang moral.Moralitas
(dari "cara, karakter, perilaku yang tepat" Latin moralitas) adalah
diferensiasi niat, keputusan, dan tindakan antara mereka yang baik (atau kanan)
dan yang buruk (atau salah). Sebuah kode moral adalah sistem moralitas (menurut
filsafat tertentu, agama, budaya, dll) dan moral adalah salah satu atau praktik
mengajar dalam kode moral. Moralitas juga mungkin spesifik identik dengan
"kebaikan" atau "kebenaran." Amoralitas adalah perlawanan
aktif terhadap moralitas (oposisi yaitu untuk apa yang baik atau kanan),
sedangkan asusila adalah berbagai didefinisikan sebagai ketidaksadaran,
ketidakpedulian terhadap, atau tidak percaya dalam setiap set standar moral
atau prinsip [1] [2]. [3] [4] contoh kode moral adalah Golden Rule yang
menyatakan bahwa, "orang harus memperlakukan orang lain sebagai salah satu
ingin orang lain untuk mengobati diri sendiri.Namun secara mendalam lagi, definisi moral begitu
beragam.Sebagai cintoh missalnya : masyarakat yang membela kelompoknya yang
dihina oleh kelompok lain yang berbeda agama atau budaya, maka secara hati
nurani akan kita bela sampai mati kelompok kita yang dihina, secara nurani
adalah perbuatan yang seharusnya.Namun saat kita membicarakan tentang
revolusi, maka yang kita bicarakan adalah paradigma baru, misalnya : Korupsi
bukanlah hal yang harus diberantas, korupsi adalah sikap yang sudah tidak layak
kita lakukan, karena melawan prinsip masyarakat yang memiliki harkat dan
martabat. Maka masyarakat yang bermartabat sudah tidak layak melakukan
korupsi. Inilah paradigma baru atau bagian dari revolusi sikap.Moral
haruslah terdefinisi agar masing-masing dari masyrakat tidak liar dalam
mengartikan moral. Namun moral juga tidak boleh distandarisasi
oleh sebuah lembaga sehingga menjadi dotrin. Moral tidak boleh terjebak
dengan standarisasi versi sebuah lembaga atau versi oleh satu individu, moral
adalah sikap abstrak yang keluar dari penjabaran manusia, pengembaraan
spiritual, sesuai pengalaman masing-masing individu.Maka bisa dikatakan , moral
tidak bisa didefinisikan namun tidak liar. Moral tidak bisa distadarisasikan
namun tetap kita harus selalu mencari tau pencarian kita akan pengertian ” apakah
saya sudah bermoral ? “Tidak bisa dipungkiri, moral adalah hal yang
abstrak, namun keberadaannya jelas, esensinya diperlukan untuk menstabilkan
jiwa kita. Tanpa moral maka segala keahlian atau kemampuan kita akan selalu
tidak terkendali. Dipenuhi pembenaran kata hati untuk membenarkan perbuatan
kita yang tampak baik, padahal sebenarnya hanya melakukan pembenaran,
membohongi hati kita sendiri. jadi peran pendidikan moral sangat penting di era
globalisasi ini.ada beberapa cara agar dampak negative globalisasi tersebut
agar bisa dihentikan salah satunya adalah lewat pendidikan nilai nilai moral
itu tadi karena pendidikan nilai moral
tersebut dapat membantu seseorang untuk berkembang menjadi seseorang yang lebih
manusiawi yang dapat menjadi manusia yang beguna dan berpengaruh dalam
masyarakat yang bersifat produktif kooperatif serta menjadi sorang yang
bertanggung jawab.
2.11 Isu Pendidikan
Nilai Moral di Beberapa Negara
Indonesia
Pendidikan nilai moral di Indonesia disadari atau tidak
masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam
perspektif global. Persoalan pembenahan pendidikan masih terpaku pada kurikulum
nasional dan lokal yang belum pernah tuntas. Di sisi lain juga adanya pandangan
yang terlalu simplistik mengenai pendidikan nilai sebagai wahana penyadaran
nilai-nilai yang sektariansubjetif dan belum banyak menyentuh nilai
universal-objektif. Menurut Sudarminta praktik yang terjadi mengenai sistem
pendidikan nasional era Orde Baru terutama pendidikan nilai hanya mampu
menghasilkan berbagai sikap dan perilaku manusia yang nyata-nyata malah
bertolak belakang dengan apa yang diajarkan. Dicontohkan bagaimana pendidikan
Moral Pancasila (PMP) dan agama_dua jenis mata pelajaran tata nilai yang
ternyata tidak berhasil menanamkan sejumlah nilai moral dan humanism ke dalam
pusat kesadaran siswa. Hasil penelitian Afiyah, dkk. (2003), menyatakan bahwa
kelemahan pendidikan agama antara lain terjadi karena materi pendidikan agama
Islam, termasuk bahan ajar akhlak, cenderung terfokus pada pengayaan
pengetahuan (kognitif), sedangkan pembentukan sikap (afektif) dan pembiasaan
(psikomotorik) sangat minim. Dengan kata lain, pendidikan agama lebih
didominasi oleh transfer ilmu pengetahuan agama dan lebih banyak bersifat
hafalan tekstual, sehingga kurang menyentuh aspek sosial mengenai ajaran hidup
yang toleran dalam bermasyarakat dan berbangsa.
India
Pendidikan nilai di India tampak lebih populer
dibandingkan dengan di negara lain. Dalam pendidikan nasional India, pendidikan
nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah,
sosial, dan kePendidikan Nilai Moral ditinjau dari Perspektif Global
warganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut
pandangan agama. Ini tidak berarti mengabaikan pentingnya pendidikan agama
sebagai kekuatan dalam membangun karakter bangsa, melainkan untuk menempatkan
pendidikan nilai dalam konteks pemahaman nilai agama yang universal.Bagi
sekolah swasta, baik dalam komunitas Kristen maupun Islam,nilai agama menjadi prioritas
pengembangan nilai. Berbeda halnya sekolah negeri,agama ditempatkan pada area
nilainilai yang mengandung kebenaran untuk semua pihak. Ruang lingkup
pendidikan nilai meliputi
(a) pendekatan dan metodologi pendidikan nilai pada
tingkat dasar dan menengah,
(b) untuk tingkat dasar program lebih dititikberatkan
pada pengindentikasian nilainilai yang perlu ditanamkan kepada siswa dengan
strategi dan teknik yang tepat,
(c) pengembangan konseling melalui pendekatan agama,
(d) program pengembangan afektif bagi para instruktur
pelatihan guru.
Malaysia
Pendidikan nilai dilakukan di sekolah dasar dan
pengembangannya dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung
pendidikan nilai diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama,
sedangkan pendidikan nilai yang tidak secara langsung dikembangkan melalui
sejumlah mata pelajaran lainnya, seperti program pendidikan kewarganegaraan dan
melalui kegiatan kokurikuler. Silabus pendidikan nilai untuk sekolah dasar
berupa kebersihan badan dan pikiran, empati, sikap tidak berlebihan, bersyukur,
rajin, jujur, adil, kasih sayang, hormat, keharmonisan sosial, kesederhanaan,
dan kebebasan.Meski cukup konsisten dalam mengembangkan nilai, moral, norma,
etika,estetika melalui pendidikan formal, sistem pendidikan di Malaysia masih
dihadapkan pada beberapa kendala. Di antaranya, (a) nilai masih banyak
diajarkan melalui pendekatan pembelajaran yang preskriptif, sehingga
kurangmemberikan kebebasan kepada peserta didik untuk memilih dan
menentukannilai,
(b) alat evaluasi yang sesuai dengan kebutuhan, khususnya
untuk mengembangkan teknik-teknik pengamatan perilaku, belum terjabarkan
dengan jelas,
(c) cara-cara pencatatan dan pelaporan pembelajaran nilai
masih belum dilakukan secara konsisten oleh guru, dan
(d) pandangan guru, orang tua, dan masyarakat masih
menempatkan kognisi sebagai aspek yang lebih penting daripada aspek afeksi.
Cina
Dalam tradisi Cina, pendidikan memiliki hubungan erat
dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian
penting dalam percaturan pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya,
pendidikan nilai dihadapkan pada beberapa tantangan berikut. Harapan masyarakat
dan orang tua siswa akan kemampuan akademik diandalkan dapat memacu konsentrasi
peningkatan akademik yang kemudian berakibat tergesernya pengembangan
sentimental, perasaan, dan moralitas. Walaupun sekolah memilki tanggung jawab
yang besar dalam mengembangkan kepribadian siswa, hal itu kurang didukung oleh
kerjasama yang erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Banyak guru yang
kurang memiliki kemampuan untuk mengembangkan pendidikan nilai. Di beberapa
sekolah dijumpai adanya kesenjangan antara apa yang seharusnya dilakukan dan
apa yang benar-benar terjadi dalam proses pendidikan. Untuk mengatasi berbagai
persoalan di atas, pemerintah Cina mengambil beberapa kebijakan berikut.
Pertama, pendidikan moral dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dasar dan
diajarkan sekali dalam seminggu. Kedua, sejumlah peraturan telah disusun dan
disebarluaskan untuk menjamin terjadinya pembentukan kebiasaan, sikap, dan cara
hidup siswa yang diharapkan. Ujudnya tata tertib perilaku anak usia sekolah
dasar, dan tata tertib anak usia sekolah menengah. Ketiga, untuk memobilisasi
dukungan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan moral di sekolah,
pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan resmi akan pentingnya pengembangan
moral dan afeksi anak usia sekolah dasar. Keempat, dengan kebijakan resmi
pemerintah, sekolah didorong untuk memperbarui dan memodifikasi tujuan
pendidikannya. Kelima, guru didorong untuk menggunakan pendekatan pembelajaran
yang mampu mengangkat pengalaman kehidupan sehari-hari. Tampaknya, pendidikan
nilai moral yang dilaksanakan di empat negara tersebut (Indonesia, Malaysia,
India, dan Cina) memiliki persamaan dan perbedaan. Hal itu terjadi karena
masingmasing negara memiliki ideologi yang berbeda. Pendidikan nilai moral pada
jenjang pendidikan dasar menunjukkan beberapa kesamaan. Fokus pendidikan nilai
moral pada jenjang pendidikan
tersebut berkaitan dengan nilai tata kepribadian diri dan
tata hidup berbangsa dan bernegara. Lebih lanjut, pendidikan nilai moral di
empat Negara tersebut sama-sama dihadapkan pada berbagai persoalan, baik yang
pendidikan nilai moralnya terencana dan terprogram dalam kurikulum maupun yang
tidak. Akan tetapi, pendidikan nilai moral pada hakikatnya inheren dalam setiap
mata pelajaran. Ada pula pendidikan nilai moral yang lebih diarahkan pada
pendidikan agama dan pendidikan kewarganegaraan.
2.12
Dimensi Pendidikan Nilai Moral
Dalam rangka mengkaji pendidikan nilai moral secara luas,
berikut ini dikemukakan pula pembahasan mengenai perkembangan moral, pendidikan
nilai moral, dan strategi pendidikan nilai moral.
A. Teori Perkembangan Moral
Dewasa ini, psikolog dan sosiolog banyak membahas
nilai-nilai moral dalam kaitannya dengan perkembangan dan pendidikan anak.
Pembahasan itu bertolak dari anggapan bahwa tidak ada prinsip moral yang
universal (kecuali moral agama) dan tetap atau tidak berubah-ubah. Pada
dasarnya setiap pribadi memperoleh nilainya sendiri dari kebudayaan eksternal.
Nilai moral merupakan penilaian terhadap tindakan yang umumnya diyakini oleh
anggota masyarakat tertentu sebagai yang salah atau benar (Berkowitz, 1964;
dikutip Muhaimin, 2001: 215). Definisi itu mencerminkan pandangan bahwa nilai
moral bersifat relatif. Para ahli lain memandang bahwa perkembangan moral dan
bentuk-bentuk sosialisasi lainnya sebagai keseluruhan proses, di mana seorang
pribadi lahir dengan banyak kemungkinan tingkah laku aktual yang dibatasi pada
bidang yang jauh lebih spirital, yaitu suatu bidang yang lazim diterima sesuai
dengan ukuran kelompoknya.Dengan demikian, perkembangan moral dipahami sebagai
suatu Pendidikan Nilai Moral ditinjau dari Perspektif Global internalisasi
langsung norma-norma budaya eksternal. Anak yang sedang tumbuh dan berkembang
dapat dilatih untuk berperilaku dengan cara sedemikian rupa sehingga ia dapat
menyesuaikan diri dengan berbagai aturan dan nilai-nilai yang ada dalam
masyarakatnya. Aturan dan nilai-nilai di masyarakat tentunya nilai-nilai
universal dan nilai-nilai lokal yang baik, yakni nilai lokal yang tidak
bertentangan dengan
nilai-nilai universal, sedangkan nilai nilai negatif
misalnya radikalisme harus dilakukan tindakan pencegahan sehingga tidak terjadi
di lingkungan masyarakat,karena nilai radikalisme itu bertentangan
dengan nilai universal dan nilai lokal.Pertimbangan moral
adalah penilaian mengenai benar dan baiknya sebuah tindakan. Akan tetapi, tidak
semua penilaian mengenai baik dan benar merupakan pertimbangan moral. Banyak di
antara tindakan yang justru merupakan penilaian terhadap kebaikan atau
kebenaran, estetis, teknologis atau bijak. Berbeda dengan penilaian terhadap
kebijakan atau estetika, penilaian moral cenderung bersifat universal, inklusif,konsisten,
dan didasarkan pada alasan-alasan yang objektif, impersonal, atau ideal.
Struktur pertimbangan moral ditetapkan berdasarkan pada apa yang didapatkan
seseorang sebagai sesuatu yang berharga pada setiap isu-isu moral dan bagaimana
ia mampu memilih dan menetapkan nilai-nilai dengan disertai alasan mengapa
seseorang memilih dan menetapkan bahwa sesuatu itu berharga. Hal ini merupakan
penentu struktur tingkat pertimbangan moral seseorang, yang sekaligus
menentukan keputusan moral atau perilaku moral.Kohlberg, melalui penelitian
Longitudinal and Crosscultural, telah berupaya
untuk menyempurnakan teori Piaget dengan menetapkan enam
tingkat pertimbangan moral yang relatif tidak bergantung pada umur.Penetapan
tingkat perkembangan moral ini didasarkan pada karakteristik empiris yang
memiliki beberapa ciri pokok berikut.
(1) Tahap-tahap pertimbangan moral tersusun secara utuh,
artinya system berpikirnya terorganisasi.
(2) Tahap pertimbangan moral berurutan secara invarian
dan tidak pernah terbalik dalam
semua kondisi (kecuali mereka yang mengalami trauma
secara ekstrem perkembangannya selalu progresif). Tidak ada tahap-tahap
terlompati dan gerakannya selalu menuju tahap yang lebih tinggi.
(3) Tahap-tahap pertimbangan moral terintegrasi secara
hierarkis. Artinya, tingkat pemikiran moral
yang tinggi telah tercakup dan menguasai tahap-tahap dan
pola piker yang berada di bawahnya.
(4) Struktur tingkat pertimbangan moral berfungsi
melahirkan kecenderungan ke arah tahapan-tahapan yang lebih tinggi.
(5)Struktur pertimbangan moral harus dibedakan dengan isi
pertimbangan moral. Sebagai contoh, suatu pilihan yang ditetapkan seseorang
(se-bagai sesuatu yang berharga atau tidak berharga)
dalam suatu situasi yang dihadapi disebut isi
pertimbangan moral, sedangkan alasan tentang penetapan
suatu pilihan (struktur penetapan pilihan) berdasarkan
pemikiran moralnya disebut pertimbangan moral (melalui Muhamimin, 2001: 216).
Selanjutnya, Kohlberg mengidentifikasi enam tahap tingkat pertimbangan moral,
yaitu
(i) orientasi hukuman atau kepatuhan,
(ii) orientasi instrumental-relatif,
(iii) orientasi masuk kelompok anak manis atau anak baik,
(iv)orientasi hukum dan ketertiban,
(v) orientasi kontrak social legalitas, dan
(vi) orientasi prinsip kewajiban. Hasil kajian Kohlberg
mengenai
tahap-tahap perkembangan moral memiliki kelemahan di mana
tahap ke-5 kurang memiliki bukti empiris dan tahap ke-6 tidak memiliki bukti
empiris.Hasil ini dikritik oleh Gilligan (1982) karena semua responden
penelitian berjenis laki-laki, padahal menurut Gilligan wanita memiliki
perbedaan dengan laki dalam membuat keputusan moral (Zuchdi, 2008: 19). Secara
singkat dikatakan laki-laki dalam membuat keputusan moral mengutamakan “hak”,
sedangkan wanita mengutamakan “tanggung jawab”. Perbedaan Kohlberg dan Gilligan
tersebut ditanggapi oleh Reimer, Paolitto, dan Hersh (1983:108), bahwa
kematangan moral harus dilihat dari dua sisi. Laki-laki dalam penalaran moral
tentang keadilan mendasarkan pada prinsip, perlu belajar menjadi orang yang
memiliki kasih sayang di samping bertindak adil. Sebaliknya, wanita yang
memiliki sifat kasih saying perlu belajar mengintegrasikan moralitas personal
dan institusional dalam prinsip-prinsip moral yang konsisten Dengan demikian
teori perkembangan moral tawaran Kohlberg tersebut dari perspektif gender
tampak bias gender karena objek kajian penelitian pada jenis laki-laki saja,
sedangkan wanita tidak dijadikan objek penelitian, padahal dari sisi psikologi
laki-laki dan wanita terdapat perbedaan. Di antara perbedaan kedua jenis
laki-laki dan wanita antara lain telah disebutkan di atas. Meskipun demikian
tawaran pemikiran moral Kohlberg tetap memberikan sumbangan pemikiran yang
berguna dalam kajian moral.Jika dianalisis lebih lanjut sumbangan pemikiran
moral Kohlberg lebih menekankan pada pemikiran moral belum menjangka pada
penghayatan, dan ranah spiritual. Sementara tesis Capra yang dituangkan dalam
paradigm “Visi Realitas Baru” yang antara lain berintikan pandangan hidup
system dan keutuhan. Ia mengamati perubahan yang berlangsung terus menerus yang
merupakan sebuah “titik balik” dalam peradaban manusia yang mewakili tumbuhnya
kesadaran baru dalam kehidupan yang sarat nilai Tesis Capra lebih menekankan
bahwa setiap peradaban manusia akan melahirkan kesadaran baru dalam kehidupan
yang sarat nilai. Oleh karena itu, ada dua hal esensial menghadapi peradaban
manusia, yaitu (1) lahirnya kesadaran baru, dan (2) kehidupan sarat nilai.
2.13
Pendidikan Nilai Moral
Pendidikan nilai moral adalah pendidikan yang berusaha
mengembangkan komponen-komponen integrasi pribadi. Integrasi pribadi dapat
dilukiskan sekurang-kurangnya dengan empat gambaran kepribadian. Menurut John
P. Miller (1976: 5), gambaran kepribadian menunjukkan beberapa
karakteristik.Pertama, pribadi yang terintegrasikan selalu melakukan
pertumbuhan dan perkembangan. Maksudnya, ia memandang hidupnya sebagai suatu
proses menjadi dan berusaha memilih pengalaman-pengalaman yang mengakibatkan
perkembangan tersebut. Oleh karenanya, ia berani menanggung resiko dan
menghadapi konflik, selagi ia tahu bahwa tanpa resiko itu perkembangannya
tertahan. Dengan kata lain,ia memiliki kesadaran terhadap perubahan
perkembangan yang mesti dialami.
Pendidikan Nilai Moral ditinjau dari Perspektif Global
Kedua, pribadi yang terintegrasikan memiliki kesadaran akan jati dirinya dan
identitasnya. Dia dapat mengenal dan menjelaskan nilai-nilai dan keyakinan yang
ia percayai dan menegaskannya secara terbuka, sejauh nilai-nilai itu menjadi
kesatuan dengan jati dirinya. Walaupun ia memiliki kepekaan terhadap
kebutuhan-kebutuhan orang lain, jati diri atau identitas yang telah ia
kembangkan adalah miliknya dan tidak disandarkan pada harapan orang lain atas
dirinya. Jati diri yang ia miliki terbentuk dari proses kesadaran memilih dan
keteguhan hatinya. Ketiga, pribadi yang terintegrasikan senantiasa terbuka dan
peka terhadap kebutuhan orang lain. Dia tidak memutuskan diri dari orang-orang
dan dia dapat mengkomunikasikan rasa empatinya secara jelas terhadap orang
lain. Dia secara efektif dapat berfungsi dalam suatu situasi kelompok. Keempat,
pribadi yang terintegrasikan menggambarkan suatu kebulatan kesadaran. Dia
merasakan suatu keseimbangan antara hati dan pikirannya. Ia mengalami rasa
keutuhan pribadinya.Dia dapat menggunakan daya kemampuan intuisi, imajinasi,
dan penalarannya. Pendidikan nilai moral tawaran John P. Miller tersebut di
atas tidak jauh berbeda dengan tawaran Kohlberg. Artinya, John P. Miller pun
beranggapan bahwa pendidikan nilai moral itu berfokus pada pembentukan pribadi
secara integratif. Oleh karena itu, pendidikan nilai moral bersifat
individualistis. Pendidikan nilai merupakan bagian dari pendidikan afeksi
karena aspek sistem nilai merupakan salah satu bagian dari aspek afeksi.
Selengkapnya, aspek afektif meliputi harga diri, minat, motivasi, sikap, sistem
nilai, dan keyakinan.Ada beberapa model pendidikan afektif (nilai) yang dapat
dipertimbangkan. Sekurang-kurangnya, ada tujuh belas model. Setiap model
mem-punyai tujuan yang berbeda. Berdasarkan arah atau orientasinya, sejumlah
model dapat digolongkan dalam satu rumpun.
Tujuh belas model pembelajaran afektif yang ada dapat
dikelompokkan ke dalam empat buah rumpun dengan sifat penggolongan yang tidak
ketat. Empat buah rumpun model pendidilan afektif itu adalah (i) model-model
perkembangan (developmental models), (ii) model-model pengenalan diri
(selfconceps models), (iii) model-model kepekaan dan kecenderungan-kelompok
(sensitivity and group-orientation models), dan (iv) model-model perluasan
kesadaran (consciousness-expansion models. Model pendidikan afektif yang
dipandang relevan dengan pendidikan nilai adalah model komunikasi, model
kepekaan perhatian, model analisis transaksional, model membangun hubungan
manusiawi, dan model kejiwaan sosial. Setiap model pembelajaran itu harus
memenuhi kerangka kerja yang meliputi arah teori, penerapan kelas, peranan
guru, kelayakan model, dan lingkungan belajar. Dengan demikian, tugas guru
adalah memilih model yang paling efektif untuk suatu lingkungan tertentu. Pada
waktu memilih model, guru harus memperhatikan dua hal. Pertama, model itu harus
memenuhi tujuan dan kepentingan guru, misalnya apabila kepentingan untuk
memudahkan terbentuknya jati diri yang positif, yang dipilih ialah salah satu
di antara model-model yang tergolong dalam rumpun pengenalan diri
(self-concept). Kedua, model itu harus disesuaikaN dengan keadaan struktur yang
dapat dihadapi oleh murid. Beberapa murid memerlukan lingkungan dengan struktur
yang ketat dan dapat mengarahkan mereka, sedangkan beberapa murid yang lain
lebih cocok dengan situasi yang lebih longgar.
2.14 Pendekatan Pendidikan Nilai Moral
Pendekatan komprehensif pendidikan nilai menurut
Kirschenbaum dalam Darmiyati Zuchdi, 2008: 36-37) meliputi pendekatan (i)
inculcating, yaitu menanamkan nilai dan moralitas, (ii) modelling, yaitu
meneladankan nilai dan moralitas, (iii) facilitating, yaitu memudahkan
perkembangan nilai dan moral, dan (iv) skill development, yaitu pengembangan
keterampilan untuk mencapai kehidupan pribadi yang tentram dan kehidupan sosial
yang kondusif. Pendekatan dapat dipilih sesuai dengan banyaknya nilai yang
dipilih untuk ditanamkan dan dikembangkan. Demikian pula, banyak sumber
pengembangan nilai-nilai dan banyak pula faktor lain yang membatasinya. Di sisi
lain, keseluruhan kurikulum sekolah berfungsi sebagai suatu sumber penting
pendidikan nilai. Aktivitas dan praktik yang demokratis di sekolah merupakan
faktor efektif yang mendukung keberhasilan pendidikan nilai, di samping
kesediaan peserta didik itu sendiri. Peserta didik tidak dapat terlepas dari pengaruh
apa yang dilakukan para guru mereka yang berkenaan dengan pendidikan nilai di
sekolah, baik dengan metode langsung maupun tidak langsung. Nilai-nilai itu
dapat diterima peserta didik melalui kedua metode tersebut, baik yang sudah
dirancang dalam kurikulum maupun nilai yang terkandung di dalam kurikulum
sebagai hiddent curriculum.Yang ditekankan dalam pendidikan nilai adalah
keseluruhan proses pendidikan nilai yang sangat kompleks dan menyeluruh yang
melibatkan cakupan yang luas dan beragam variasi yang dialami. Oleh karena itu,
pendidikan nilai tidak dapat disajikan hanya oleh seorang guru atau hanya dalam
satu pelajaran, tetapi diperlukan format yang beragam dari berbagai pelajaran
yang mengintegrasikan secara sendiri sendiri atau dengan kombinasi.
2.15
Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral
Untuk mengaplikasikan konsep pendidikan nilai tersebut di
atas, diperlukan beberapa metode, baik metode langsung maupun tidak langsung.
Metode langsung mulai dengan penentuan perilaku yang dinilai baik sebagai upaya
indoktrinasi berbagai ajaran. Caranya dengan memusatkan perhatian secara
langsung pada ajaran melalui mendiskusikan, mengilustrasikan, menghafalkan, dan
mengucapkannya.Metode tidak langsung tidak dimulai dengan menentukan perilaku
yang diinginkan, tetapi dengan menciptakan situasi yang memungkinkan perilaku
yang baik dapat dipraktikkan. Keseluruhan pengalaman di sekolah dimanfaatkan
untuk mengembangkan perilaku
yang baik. Dengan penerapan metode langsung dimungkinkan
nilai-nilai yang diindoktrinasi dapat diserap peserta didik, bahkan dihafal di
luar kepala, tetapi tidak terinternalisasikan, apalagi teramalkan. Kemungkinan
kedua, nilai nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan, tetapi berkat
pengawasan pihak penguasa bukan atas kesadaran diri peserta didik. Dalam hal
ini, nilai moral yang pelaksananya seharusnya bersifat suka rela (voluntary
action) berubah Pendidikan Nilai Moral ditinjau dari Perspektif Global menjadi
nilai hukum yang dalam segala aspeknya memerlukan pranata hukum.Di samping itu,
pendidikan nilai moral dapat diselenggarakan dengan menggunakan (i) metode
dogmatis, (ii) metode deduktif, (iii) metode induktif, atau (iv) metode
reflektif (Muhadjir,1988:161). Masing-masing metode itu dapat dijelaskan secara
singkat sebagai
berikut.
a. Metode dogmatik adalah metode untuk mengajarkan nilai
kepada peserta didik dengan jalan menyajikan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran
yang harus diterima apa adanya tanpa mempersoalkan hakikat kebaikan dan
kebenaran itu sendiri.
b. Metode deduktif adalah cara menyajikan nilai-nilai
kebenaran (keutuhan dan kemanusiaan) dengan jalan menguraikan konsep tentang
kebenaran itu agar dipahami oleh peserta didik. Metode ini bertolak dari
kebenaran sebagai teori atau konsep yang memiliki nilai-nilai baik, selanjutnya
ditarik beberapa contoh kasus terapan dalam kehidupan sehari-hari di
masyarakat, atau ditarik ke dalam nilai-nilai lain yang lebih khusus atau
sempit ruang lingkupnya.
c. Metode induktif adalah sebagai kebalikan dari metode
deduktif, yakni dalam membelajarkan nilai dimulai dengan mengenalkan
kasus-kasus dalam kehidupan sehari-hari, kemudian ditarik maknanya secara
hakiki tentang nilai-nilai kebenaran yang berada dalam kehidupan tersebut.
d. Metode reflektif merupakan gabungan dari penggunaan
metode deduktif dan induktif, yakni membelajarkan nilai dengan jalan
mondar-mandir antara memberikan konsep secara umum tentang nilai-nilai
kebenaran, kemudian melihatnya dalam kasuskasus kehidupan sehari-hari, atau
dari melihat kasus-kasus sehari-hari dikembalikan kepada konsep teoretiknya
secara umum. Berbagai metode tersebut selanjutnya perlu dikembangkan secara
rinci ke dalam teknik atau prosedur pembelajaran. Teknik pendidikan nilai moral
yang berorientasi pada nilai (afek) ada bermacam-macam, di antaranya ialah(i)
teknik indoktrinasi, (ii) teknik moral reasoning, (iii) teknik meramalkan
konsekuensi, (iv) teknik klarifikasi, dan (v) teknik internalisasi (Muhadjir,
1988:199).Berikut ini sekedar contoh implementasi pendidikan nilai. Contoh (i)
berkenaan dengan keteladanan. Pengimplementasian pendidikan nilai kepada
peserta didik memerlukan adanya kesadaran para pendidik agar senantiasa menjadi
contoh bagi peserta didik agar tidak bersikap mendua. Misalnya,jika peserta
didik dituntut berperilaku jujur, berucap dengan upacan yang baik,
konsekuensinya para pendidik dituntut berperilaku jujur, tidak mengajarkan
kebohongan, dan bertutur kata yang baik. Contoh (ii) berkenaan dengan
pernyataan bahwa jika si pendidik menginginkan peserta didik menghormati hukum,
si pendidik harus selalu mematuhi peraturan dan hukum yang berlaku. Perlu
disadari bahwa setiap ucapan dan perilaku pendidik (orang tua dan guru) sangat
mempengaruhi karakter peserta didik. Sebagai konsekuensinya, para pendidik
(orang tua, guru, dan para pembimbing) harus konsisten dalam berperilaku moral
karena peserta didik tumbuh dan berkembang mengikuti model perilaku para
pendidik. Mereka akan melakukan apa yang dilakukan dan dikatakan oleh si
pendidik. Para pendidik hendaknya selalu memeli hara nilai diajarkan dan konsisten
dalam berperilaku.
BAB
III
PENUTUPAN
KESIMPULAN
- karena selain memberikan dampak yang buruk bagi suatu bangsa globalisasi juga memberikan dampak positif juga oleh karena itu kita sebagai warga Negara harus bisa menyaring budaya budaya yang masuk ke Negara kita. kita harus pandai dalam menyaring budaya tersebut mengambil hal yang posif saja yang bisa diterima oleh masyarakat yang bisa memberi pengaruh baik bagi moral suatu bangsa.
- Bahwa terjadinya proses globalisasi dalam aspek sosial terjadi dengan
cara melalui berbagai macam media salah satunya adalah media elektronik seperti televisi,internet,hp dll baik secara
langsung maupun tidak langsung, serta melalui interaksi yang terjadi
dimasyarakat.
- Bahwa dampak yang ditimbulkan era globalisasi pada aspek sosial yaitu
terjadi perubahan ciri kehidupan masyarakat desa yang tadinya menjunjung tinggi
gotong royong menjadi individual, serta sifat ingin selalu instant pada diri
individu tersebut.
- Bahwa penanggulangan pada dampak era globalisasi pada aspek sosial diantaranya diadakannya pembangunan
kualitas manusia, pemberian life skill, memberikan sikap hidup yang global dan
menumbuhkan wawasan, identitas rasional serta menciptakan pemerintahan yang
transparan dan demokratis.
- Konsep pendidikan nilai moral yang dikemukakan
oleh Kohlberg dan John P. Miller cenderung bersifat individualistik. Oleh
karena itu, konsep itu memerlukan penyempurnaan dengan mempertimbangkan
paradigm yang dikemukakan oleh Capra. Lebih lanjut, dalam implementasikannya,
diperlukan strategi pendidikan nilai moral yang tepat melalui pemilihan
pendekatan (approach),metode (method), dan teknik
(technique) pendidikan nilai moral yang sesuai.
- jadi pendidikan nilai moral suatu bangsa sangat penting karena dapat membantu
seseorang untuk berkembang menjadi seseorang yang lebih manusiawi yang dapat
menjadi manusia yang beguna dan berpengaruh dalam masyarakat yang bersifat
produktif kooperatif serta menjadi sorang yang bertanggung jawab
-Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan sekaligus
kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup
bersama, berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang
diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan
mendunia.
-Penyelesaian permasalahan hidup yang
dialami umat manusia tidak cukup dalam negeri sendiri, namun
banyak hal yang penyelesaiannya dibutuhkan dukungan dan
bantuan luar negeri, misalnya terorisme global,masalah ekonomi, dan masalah
krisis multidimensional.
-Berdasarkan fakta yang
ada, dapat dilihat bahwa terjadi kemerosotan nilai moral, seperti tingkat
kriminalitas yang tinggi, tingkat aborsi yang tinggi, dan lain-lain. Jika
hal-hal seperti ini tidak diperbaiki, hal ini akan menyebabkan rusaknya
generasi masyarakat di masa yang akan datang. Sehingga tidak mungkin zaman akan
berganti lagi seperti zaman jahiliyah dahulu.
- Globalisasi merupakan
suatu gejala wajar yang pasti akan dialami oleh setiap bangsa di dunia, baik
pada masyarakat yang maju, masyarakat berkembang, masyarakat transisi, maupun
masyarakat yang masih rendah taraf hidupnya.Dalam era global, suatu
masyarakat/negara tidak mungkin dapat mengisolasi diri terhadap proses
globalisasi. Jika suatu masyarakat/negara mengisolasi diri dari globalisasi,
mereka dapat dipastikan akan terlindas oleh jaman serta terpuruk pada era
keterbelakangan dan kebodohan.Dampak positif dan negatif pada pengaruh
globalisasi terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara pun ada. Salah satunya
era globalisasi pada sistem politik. Bangsa Indonesia telah menerapkan
kehidupan berdemokrasi yang telah membawa perubahan-perubahan yang besar,
diantaranya pelaksanaan pemilu legislatif dengan sistem multipartai dan
pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung. Itu dampak positifnya
-Dari hasil pembahasan diatas, pemerintah dapat melakukan beberapa
tindakan untuk mencegah terjadinya pengaruh ekonomi bagi kehidupan bangsa dan
negara yaitu :Pemerintah perlu mengkaji ulang perturan-peraturan yang dapat
menyebabkan pergeseran ekonomi ,Masyarakat harus mencintai produk dari bangsa
kita sendiri,Pemerintah harus meningkatkan kemampuan bangsa dan negara
untuk berkompetisi secara internasional,Pemerintah harus mampu meningkatkan kualitas produksi dalam negeri agar
dapat bersaing di pasar internasional,Pemerintah juga harus mampu meningkatkan
pendapatan perkapita masyarakat
-Pendidikan nilai atau moral sebagai
isu global di beberapa negara (Indonesia,Malaysia, India, dan Cina)
menampakkan adanya perbedaan dan kesamaan. Perbedaan yang
ada disebabkan oleh adanya perbedaan ideologi bangsa. Walaupun
demikian,negara-negara itu memberikan penekanan pendidikan nilai moral pada
nilai etik-moral; terutama dalam hal nilai-nilai yang bersifat asasi manusia,
universal, dan global.
SARAN
-Bahwa di era Globalisasi
ini sangat nyata dibutuhkan generasi yang unggul dan mandiri dalam IPTEK. Oleh
karena itu diperlukan sikap positif dari kita dalam menerima perkembangan IPTEK
untuk mengimbangi kehidupan kita dalam era Globalisasi ini sehingga tercipta
generasi yang tidak tertinggal dalam era globalisasi ini.
Sehingga pengaruh
teknologi informasi memang tidak mungkin kita tolak atau hindari, kita harus
dapat memanfaatkannya untuk kesejahteraan masyarakat tetapi disisi lain kita
juga harus berhati-hati dan bersikap bijak agar dampak negatif yang
menyertainya dapat kita hilangkan atau paling tidak kita minimalisir,
mengenalkan teknologi informasi sekaligus pemanfaatannya bagi kehidupan pribadi
maupun kehidupan sosial kemasyarakatan dan meningkatkan daya nalar dan daya seleksi
masyarakat terhadap berbagai informasi yang membanjir, sehingga masyarakat
semakin kritis dan dewasa dalam menyikapinya.
-pada masa-masa sekarang
Indonesia perlu melakukan sosialisasi yang berkelanjutan dalam membudayanya
IPTEK. Pengenalan IPTEK dapat di mulai dari tingkat Sekolah Menengah sampai
Perguruan Tinggi, juga pelaku industri dan masyarakat umum.Tujuannya adalah
menciptakan generasi yang unggul dan mandiri dalam IPTEK untuk menghadapi era
globalisasi. Sebab globalisasi proses yang tidak bisa dihindari dan
dicegah. Globalisasi dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dimana proses
yang mencakup keseluruhan dalam berbagai bidang kehidupan sehingga tidak tampak
lagi adanya batas-batas yang mengikat secara nyata. Dalam keadaan global apa saja
dapat masuk sehingga sulit untuk disaring atau dikontrol.
Daftar
pustaka
umrefjournal.um.edu.my/filebank/published_article/670/JPMM%202006%20HASMAH%20ZANUDDIN.pdf
http://scholar.google.co.id/scholar?start=30&q=jurnals+moral&hl=id&as_sdt=0
business.illinois.edu/ba/seminars/2011%5CSpring%5Creed_paper.pdf
http://eprints.uny.ac.id/3644/
http://en.wikipedia.org/wiki/Globalization
http://en.wikipedia.org/wiki/Morality
http://en.wikipedia.org/wiki/Globalization
http://en.wikipedia.org/wiki/Morality
http://wizanies.blogspot.com/2007/08/akhlak-etika-moral.html
http://grms.multiply.com/journal/item/26
http://dewon.wordpress.com/2007/11/03/kategori-19/
http://kurniapanduwibowo.blogspot.com/2011/04/pengertian-era-globalisasi.html
http://matakuliahekonomi.wordpress.com/2011/05/09/contoh-makalah-globalisasi-full/
http://randinurzaman.blogspot.com/2012/04/makalah-dampak-globalisasi-dalam-bidang.html
http://mengerjakantugas.blogspot.com/2009/05/pengertian-globalisasi.html
http://www.anneahira.com/globalisasi-ekonomi.htm
hrcak.srce.hr/index.php?show=clanak_download&id_clanak_jezik=15830
MAKALAH TENTANG
GLOBALISASI
PENYUSUN :
Nama
M.MAHBUBI
Kelas
IX c
Tahun ajaran 2014-2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar